balibercerita.com –
Perkembangan kawasan pariwisata di Kuta Utara membawa dinamika tersendiri bagi warga yang tinggal berdampingan dengan pusat hiburan. Karena berdekatan dengan tempat hiburan malam, warga ternyata sering mendapatkan imbas nyeleneh warga negara asing (WNA).
Contohnya, perilaku mesum di tempat umum maupun di lingkungan pekarangan warga. Sayangnya hal itu terkadang tidak terekam CCTV sehingga sulit disikapi.
Seperti yang disampaikan I Wayan Suyadnya, pemilik rumah yang pekarangannya sempat menjadi lokasi tindakan tidak senonoh oleh dua WNA. Kejadian tersebut bukan kali pertama terjadi. Beberapa kali ditemukan perilaku serupa di sekitar lingkungan permukiman.
Namun, kejadian terbaru menjadi perhatian setelah terekam kamera CCTV. “Ini bukan pertama kali. Sudah beberapa kali terjadi. Hanya saja sekarang terekam CCTV dengan jelas sehingga menjadi perhatian,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari karakter kawasan yang berkembang pesat sebagai destinasi wisata. Rumah warga berada tidak jauh dari sejumlah beach club sehingga aktivitas wisatawan dan kehidupan permukiman berjalan berdampingan.
Biasanya, kata Suyadnya, kejadian berlangsung pada malam hari, sekitar pukul 22.00 Wita ke atas. Namun, kejadian terbaru berlangsung lebih awal, sekitar pukul 18.30 Wita. “Saat itu mereka diduga dalam kondisi mabuk,” katanya.
Saat kejadian, pagar rumah dalam kondisi tidak tertutup rapat karena masih menjelang malam. Kedua WNA tersebut kemudian masuk ke area pekarangan. Keberadaan mereka diketahui keluarga Suyadnya yang saat itu masih berada di rumah.
Ia menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya dari aparat, kedua WNA tersebut mengaku baru bertemu di tempat hiburan malam sebelum kemudian melakukan tindakan yang tidak semestinya di area permukiman. Suyadnya menilai, pengawasan dan kesadaran pribadi menjadi bagian penting dalam menjaga batas antara aktivitas pariwisata dengan kenyamanan masyarakat sekitar.
“Ini salah satu imbas kita berada di wilayah pariwisata, apalagi bersebelahan dengan beach club. Tamu masuk, minum, kemudian perilakunya kembali kepada pribadi masing-masing,” ujarnya.
Ia mengatakan, lingkungan sekitar sebenarnya telah dilengkapi penerangan yang cukup serta CCTV di sepanjang gang. Karena itu, pencegahan tidak hanya membutuhkan sarana pengawasan, tetapi juga kesadaran setiap orang untuk menghormati lingkungan tempat tinggal masyarakat.
Suyadnya pun mengapresiasi respons cepat aparat, termasuk Kantor Imigrasi Ngurah Rai, dalam menangani kejadian tersebut. “Karena kejadian seperti ini cukup sering, kami mengapresiasi langkah cepat aparat dan Imigrasi Ngurah Rai. Koordinasi antarinstansi juga sangat baik,” katanya.
Selain persoalan perilaku wisatawan, warga juga menghadapi tantangan lain seiring meningkatnya aktivitas kawasan wisata, salah satunya pengemudi ojek daring yang kerap berhenti di atas trotoar dan mengganggu ruang pejalan kaki. Ke depan, Suyadnya berharap perkembangan pariwisata tetap berjalan seiring dengan kenyamanan dan keamanan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. (BC5)


















