Ada pengalaman pahit akibat akses keluar masuk hanya mengandalkan jembatan. Saat itu, salah seorang rekannya mengalami serangan jantung. Proses evakuasi korban pun sulit dilakukan karena mereka harus melalui jembatan, sedangkan mobil ambulan berada jauh dari lokasi. Kejadiannya itu berlangsung dua bulan lalu. “Saat tiba di rumah sakit, saudara saya itu dinyatakan sudah meninggal karena lambat pertolongan. Kalau 10 menit sebelumnya ia sampai di RS, diperkirakan nyawanya masih bisa tertolong,” bebernya
Dikonfirmasi terpisah, keluarga pemilik lahan, Pendeta Shephard Supit tidaklah memungkiri kondisi tersebut. Ia meminta maaf atas peristiwa itu dan berjanji untuk mengatasi masalah itu. Selama ini, ia mengaku sudah berupaya untuk membuka akses keluar masuk lahan tersebut, namun hal itu masih sulit dilakukan. Karena itulah dibuat sebuah jembatan darurat, dengan tujuan agar penjaga lahan tidak menjadi terisolir.
“Lahan kita ini memang dikelilingi lahan penyanding. Kami sebenarnya sudah berusaha negosiasi untuk agar diberikan akses jalan. Hal itupun sudah ditindaklanjuti oleh bendesa adat, agar kami bisa diberikan akses keluar masuk,” terangnya.
Sepengetahuannya, ketika ada sebuah lahan lain yang berlokasi di tengah lahan lain, tentu diperlukan sebuah akses keluar masuk yang memadai, demi keharmonisan hubungan. Pihaknya berharap agar instansi berwenang bisa ikut mengatensi hal itu sehingga ada solusi. “Pada dasarnya kami siap dan membuka diri untuk dilakukan negosiasi. Apalagi kondisi itu sudah menyangkut kemanusiaan,” imbuhnya. (BC5)















