Bangli, balibercerita.com –
Siapa sangka rumah tua peninggalan kakek yang lama terbengkalai, kini berubah menjadi tempat makan berkonsep vintage yang ramai dikunjungi. Berlokasi di Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Bangli, Pondok Umapadi bukan sekadar tempat makan biasa, namun sebagai ruang nostalgia yang menghadirkan kembali suasana pedesaan tempo dulu. Bahkan lengkap dengan aroma dapur tradisional dan keramahan khas desa Bali.
Saat berkunjung ke Pondok Umapadi, pengunjung disambut suasana rumah kuno yang asri. Hidangan rumahan nan tradisional tersaji dalam nuansa alami yang menenangkan. Menariknya, salah satu daya tarik utama tempat ini adalah keberadaan Bale Daja, bangunan kuno yang sudah berdiri sejak tahun 1950-an. Bangunan ini tidak hanya menjadi latar bersejarah, tetapi juga tempat favorit para tamu menikmati sajian khas Pondok Umapadi.
Meskipun lokasinya berada di ujung jalan, tempat makan dengan area terbuka ini tak pernah sepi. Para pengunjung datang silih berganti, sekadar bersantai sambil menikmati sepiring nasi sela atau menyeruput kopi Bali di bawah rindangnya pohon dan suasana rumah tua.
Desak Ariani, sang pengelola Pondok Umapadi, mengisahkan bahwa tempat ini dulunya adalah rumah tinggal milik kakeknya yang telah lama kosong sejak kepergian sang pemilik.
“Sejak kakek meninggal, rumah ini lama kosong. Beliau ini merupakan saudara dari kakek kandung saya, yang tinggal sendiri dan tidak memiliki keturunan. Setelah meninggal, rumah ini kosong tak berpenghuni,” tutur Desak, Minggu, (3/8).
Rumah tua tersebut sering ia datangi hanya untuk bersih-bersih dan merawat halaman. Kebiasaan sederhana itu pun ia dokumentasikan ke media sosial, khususnya TikTok. Ia membagikan kegiatan akhir pekannya seperti menyapu halaman, mebanten, memberi makan ayam, berkebun, hingga memasak. Tak disangka, konten-konten itu menyentuh banyak orang dan mengundang kenangan akan masa kecil atau kehidupan desa yang mulai jarang ditemui.
“Awalnya punya ide merekam keseharian di pondok, semenjak sepeninggalan kakek. Dari nyapu, mebanten, memberi makan ayam, berkebun, hingga memasak, untuk dibagikan ke medsos. Karena viral, banyak akun-akun yang merepost. Setelah 6 bulan berjalan, banyak yang komentar untuk berkunjung ke pondok untuk melihat rumah yang klasik,” ungkapnya.
Meski sempat ragu membuka rumah tua itu untuk umum, Desak terus membuat konten hingga akhirnya memutuskan untuk menghadirkan konsep tempat makan yang menghidupkan kembali nilai-nilai kuliner tradisional. Nama Umapadi dipilih untuk mengenang masa lalu di mana daerah sekitar digunakan sebagai lahan padi gaga. Kini, lahan tersebut telah berubah menjadi kebun milik warga.
Menu yang disajikan pun tak kalah otentik. Ada nasi sela dengan sambal bongkot khas yang bahan-bahannya dipetik langsung dari kebun belakang rumah. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati lak-lak, tipat kare, tipat cantok, pisang goreng, bahkan menu anak-anak seperti pisang coklat dan sosis. Semua disajikan dengan harga ramah di kantong, mulai dari Rp5.000 saja.
“Nasi sela di sini, sambal andalan menggunakan sambal bongkot, yang bahannya memetik di kebun belakang. Intinya memberdayakan hasil alam untuk dipakai di jadikan hidangan,” katanya.
Menu-menu tersebut merupakan resep keluarga, terutama dari ibunda tercinta. Harapan Desak, ke depan Pondok Umapadi bisa menjadi penggerak ekonomi lokal dengan mengajak warga sekitar terlibat dalam produksi bahan makanan maupun aktivitas lainnya.
“Bisa saja nanti kita akan bekerjasama dengan warga untuk memasarkan hasil kebun. Sehingga aktivitas di Pondok Umapadi ini juga bisa berimbas pada ekonomi masyarakat sekitar,” ujarnya penuh harap.
Tak hanya soal makanan, Desak juga tengah menyiapkan konsep wisata tambahan untuk melengkapi pengalaman di Pondok Umapadi. Salah satunya adalah aktivitas tracking ringan serta wisata spiritual, karena tak jauh dari lokasi terdapat sebuah sumber mata air yang muncul dari bawah pohon besar, tempat yang menurut warga sekitar memiliki nilai spiritual yang masih dipercaya hingga kini.
“Nantinya untuk pengembangan wisata ini akan bekerjasama dengan warga setempat, dengan konsep wisata spiritual setelah itu makannya di Pondok Umapadi,” pungkasnya. (BC9)
















