Joged Bumbung Duta Badung Selipkan Pesan Jaga Tradisi, Hindari Pornografi

0
244
Joged Bumbung
Penampilan duta Badung pada Utsawa Joged Bumbung PKB 2025. (ist)

Denpasar, balibercerita.com –
Pada Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, Rabu (2/7), duta Kabupaten Badung tampil memukau. Tak hanya soal pementasan, pesan yang disampaikan Sekaa Gong Gita Swara Banjar Anyar, Kuta, Kecamatan Kuta, yang tampil di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Art Center Denpasar ini pun sangat kuat.

Penata tabuh, Putu Sukadana, S.Sn., menyatakan, Sekaa Gong Gita Swara menampilkan dua jenis tabuh kreasi. Pertama, Tedung Jagat. “Tedung berarti payung atau peneduh, jagat berarti bumi atau dunia. Tedung jagat adalah sebuah istilah kiasan kata untuk seorang pemimpin yang memiliki kebijaksanaan dan kewajiban memberikan kenyamanan kepada rakyatnya,” ungkapnya.

Baca Juga:   Triwulan I 2024, Jumlah Kunjungan Wisman Ke Bali Melalui Bandara Ngurah Rai Naik 31,98 persen

Kedua, Tabuh Joged Gitaning Samudra atau Harmoni Pesisir Pantai Kuta. Tari joged bumbung duta Kabupaten Badung tahun ini mengangkat keseruan dan dinamika kehidupan para nelayan di tepi Pantai Kuta yang setiap hari menyatu dengan irama alam.

“Dalam suasana ceria penuh tawa, para nelayan digambarkan sibuk bersiap ke laut menjala ikan hingga menata hasil tangkapan dengan semangat kebersamaan. Namun, terselip pada konflik jenaka antara seorang nelayan dengan istrinya. Sang suami terlalu asyik dengan pencar dan hasil tangkapannya hingga lupa membantu di rumah. Sang istri yang merasa disepelekan muncul dengan gerak protes yang lucu memperkaya nuansa dramatik dan jenaka dalam tari,” ungkapnya lagi.

Baca Juga:   Tenun Karangasem Tampil di Inacraft 2025, Buktikan Eksistensi Warisan Budaya di Panggung Nasional

Putu Sukadana menambahkan, sebelum tampil di PKB ke-47 ini, Sekaa Gita Swara Banjar Anyar Kuta telah mempersiapkan segala sesuatunya. “Sebelum tampil, sekaa gong ini sudah berproses sejak dua bulan yang lalu,” tegasnya.

Ditanya soal target, Sukadana menyatakan, pementasan ini hanya menjaga tradisi dan menghindarkan pementasan joged bumbung ke arah pornografi. “Jadilah kita menampilkan joged tradisi yang di dalamnya ada pengawit, pengawak, dan pengisep, serta ada cerita dalam pementasan tersebut,” ujarnya.

Baca Juga:   Ayo Menulis Esai Demi Menjaga Warisan Peradaban Hindu Nusantara 

Dia menambahkan, joged bumbung tradisi menampilkan 4 penari joged membawakan pengibing menceritakan nelayan, ada juga jaipongannya. Terkait pakem yang harus ditampilkan dalam joged tradisi, Sukadana menyatakan, berupa egolan yang identik ke samping bukan ke depan. “Ada juga menampilkan tabuh kreasi,” ujarnya sembari menambahkan, durasi pementasannya maksimal hanya satu jam dua puluh menit. (BC13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini