Sekaa Gong Ejo Bang Hadirkan Napak Pertiwi di PKB 2025

0
226
PKB
Tradisi napak pertiwi yang ditampilkan Sekaa Gong Ejo Bang, Desa Adat Kiadan, Desa Pelaga, pada PKB 2025. (ist)

Denpasar, balibercerita.com –
Sekaa Gong Ejo Bang, Desa Adat Kiadan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung menampilkan tradisi “napak pertiwi” di Kalangan Angsoka, Art Center, Denpasar dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025, pada Kamis (3/7).

Napak pertiwi merupakan tradisi turun temurun yang ada di Desa Adat Kiadan. Salah satu pentas pamungkas dari tradisi napak pertiwi ini adalah tarian “Ida Batara Ratu Sesuhunan” Desa Adat Kiadan yang berwujud barong dan rangda. Di PKB 2025, Sekaa Gong Ejo Bang, Desa Adat Kiadan mengkreasikan tradisi napak pertiwi ini sebagai garapan karya seni.

Baca Juga:   Puluhan Petarung dari 14 Camp di Indonesia Bertarung di Bali Muaythai Club Pecatu

Menurut Penata karawitan, I Putu Sopyarta, S.Sn., karya seni ini merupakan satu kesatuan pertunjukan yang menggambarkan kekayaan spiritual, estetika, dan budaya masyarakat Desa Adat Kiadan melalui perpaduan antara tabuh dan tari sakral yang sarat makna.

Diawali dengan tabuh petegak bebarongan “Dangsil”, pertunjukan ini mengangkat filosofi persembahan tradisional dangsil sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen dan kesuburan alam. Dangsil, yang dibuat dari anyaman bambu dan dihiasi berbagai sesajen, nilai-nilai ini diwujudkan dalam komposisi musikal petegak yang terdiri atas bagian kawitan, pengawak, dan pengecet.

Dilanjutkan dengan Tari Pendet Pemendak Ratu, yang merupakan persembahan suci untuk menyambut kehadiran Ida Batara dalam wujud tapakan atau sesuhunan barong dan rangda saat prosesi napak pertiwi. “Tarian ini berfungsi sebagai ritual penyucian arena pementasan, diawali oleh tokoh penasar Wijil yang membawakan kisah tentang kearifan lokal dan pentingnya pelestarian budaya di Desa Adat Kiadan,” ujar Sopyarta.

Baca Juga:   Warung Meating Jimbaran: Kuliner Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima

Sebagai penutup, kata dia, ditampilkan Tari Telek Badung yang menyajikan kisah kosmis tentang turunnya Sang Hyang Tri Semaya ke dunia untuk meredam kekuatan Dewi Durga dan Kala Ludra yang bertemu di Setra Gandamayu. Dewa Brahma menjelma sebagai jauk, Dewa Wisnu sebagai telek, dan Dewa Iswara sebagai barong untuk menetralisir energi negatif demi menjaga keharmonisan alam. “Karya ini menjadi simbol perlindungan spiritual dan keseimbangan semesta,” katanya.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Hadiri Pujawali di Pura Banjar Abianbase Kuta

Sopyarta juga menambahkan bahwa ketiga karya ini berpadu menjadi satu artistik dan spiritual yang merefleksikan ketulusan bhakti, harmoni kosmis, serta jati diri budaya masyarakat Desa Adat Kiadan. Untuk tampil di PKB 2025, Sopyarta mengaku Sekaa Gong Ejo Bang telah mempersiapkan sejak tiga bulan lalu. “Total seniman yang terlibat dalam kegiatan ini sebanyak 50 orang yang terdiri dari penari dan penabuh,” katanya. (BC13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini