Mangupura, balibercerita.com –
Minat masyarakat Indonesia terhadap aset digital terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sepanjang kuartal pertama 2025, total nilai transaksi aset kripto di Tanah Air mencapai Rp109,3 triliun. Jumlah investor juga mengalami lonjakan signifikan, mencapai 13,31 juta orang.
Fenomena ini disambut baik oleh pelaku industri, namun juga memunculkan tantangan baru yakni bagaimana memastikan bahwa lonjakan minat ini disertai dengan pemahaman yang cukup. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana menegaskan pentingnya edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak hanya mengejar potensi keuntungan tanpa memahami risiko di baliknya.
“Semangat masyarakat dalam berinvestasi sangat besar, namun edukasi tetap menjadi prioritas utama. Kami ingin pengguna memahami secara menyeluruh bagaimana cara kerja aset kripto serta potensi risiko dan manfaatnya,” ujarnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab industri, Tokocrypto terus menggencarkan literasi aset digital melalui berbagai program edukatif. Sepanjang 2024, perusahaan ini telah menyelenggarakan 135 kegiatan edukasi di 20 kota dan 20 kampus di Indonesia. Melalui inisiatif seperti Obras (Obrolan Komunitas) dan Web3 University Tour, lebih dari 200.000 peserta telah teredukasi mengenai aset digital dan teknologi blockchain.
Tokocrypto kini telah memiliki lebih dari 4 juta pengguna terdaftar, dengan lebih dari 400 aset kripto dan 600 pasangan perdagangan yang tersedia di platform. Hal ini memperkuat posisi Tokocrypto sebagai pionir dalam industri aset digital di Indonesia. “Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa industri kripto bukan lagi sekadar tren, melainkan bagian dari transformasi ekonomi digital. Namun, keberlanjutan industri ini sangat bergantung pada tingkat literasi para penggunanya,” tutup Calvin. (BC5)

















