Gianyar, balibercerita.com –
Di sudut tenang Agung Rai Museum of Art (ARMA), Desa Peliatan, Ubud, seorang pria paruh baya duduk dengan sebatang bambu raut di tangannya. Tangannya bergerak pelan, nyaris seperti meditasi, menciptakan guratan-guratan halus di atas kanvas yang kelak akan menjadi lukisan sarat makna. Ia adalah I Wayan Pendet (57), salah satu seniman tradisional Bali yang masih setia berkarya dengan teknik kun menggunakan bambu sebagai pena lukis dan tinta Cina sebagai pewarna.
Wayan bukan hanya seorang pelukis. Ia adalah penjaga nilai-nilai budaya yang mulai tergerus zaman. Sudah hampir tiga dekade ia menempati salah satu sudut ARMA, museum yang menjadi rumah keduanya sejak pertama kali dibuka pada 1996. Di balik karya-karya indahnya, tersembunyi kisah dedikasi, kesetiaan, dan cinta mendalam terhadap tanah kelahirannya. “Saya melukis sudah sejak SD. Kalau di sini saya sudah sejak museum ini berdiri tahun 1996,” ucapnya.
Salah satu lukisannya yang saat itu dibuat menggambarkan prosesi pernikahan adat Bali. Selama ini ia memang selalu membuat lukisan tradisional Bali, yang terinspirasi dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat tempo dulu. Butuh waktu empat bulan baginya untuk menyelesaikan satu lukisan ini. Sebuah bukti bahwa seni bukan sekadar hasil, melainkan perjalanan panjang rasa dan makna.
Di tengah gemerlapnya seni modern yang serba instan dan digital, Wayan Pendet memilih berjalan pelan. Teknik “bambu diencak” yang ia gunakan menuntut kesabaran, kehati-hatian, dan perasaan yang menyatu dengan medium. “Saya menggunakan bambu untuk melukis, warnanya menggunakan tinta Cina,” ungkapnya
Museum ARMA bukan hanya tempatnya bekerja, tapi juga ruang hidup tempat ia mengajar, berbagi, dan menginspirasi generasi muda. Ia kerap membuka sesi kecil bagi anak-anak dan pemuda lokal yang ingin belajar melukis dengan teknik tradisional. Baginya, menjaga warisan tidak cukup dengan berkarya namun harus diwariskan agar tetap lestari.
Wayan Pendet bukan hanya pelukis. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Dalam setiap garis lukisannya, dalam setiap tetes tinta di atas kanvas, ada denyut nadi budaya Bali yang terus bergetar. Diam-diam, dari ruang kecil di ARMA, ia sedang menulis ulang sejarah bukan dengan kata-kata, tapi dengan jiwa yang dituangkan lewat bambu dan tinta. (BC5)


















