Mangupura, balibercerita.com –
Ekonomi akar rumput diyakini memiliki potensi besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi Asia, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Dalam rangka mendorong potensi ini, Amartha menyelenggarakan The 2025 Asia Grassroots Forum pada 21–23 Mei 2025, di Nusa Dua, Bali. Forum ini menghadirkan lebih dari 700 peserta dari 15 negara, meliputi investor global, pemerintah, regulator, sektor swasta, akademisi, hingga pelaku usaha mikro.
UMKM di Asia Tenggara menjadi tulang punggung perekonomian dengan mencakup 97 persen sektor swasta, menyerap 85 persen tenaga kerja, dan berkontribusi 45 persen terhadap PDB kawasan. Namun, tantangan seperti akses pembiayaan, literasi keuangan, dan keterbatasan infrastruktur masih menjadi penghambat utama pertumbuhan sektor ini.
“Pertumbuhan inklusif bisa dicapai dengan memperluas pemberdayaan UMKM. Kolaborasi kami dengan Amartha dan MBK merupakan bukti bahwa pembiayaan inovatif dari institusi internasional dapat menjangkau sektor mikro secara langsung,” ujar Donny Donosepoetro OBE, CEO Indonesia, Standard Chartered.
Andi Taufan Garuda Putra, Founder & CEO Amartha menekankan bahwa forum ini membuka perspektif baru bagi investor global tentang besarnya potensi segmen akar rumput. “Dukungan teknologi keuangan inklusif, infrastruktur digital, dan kolaborasi dengan institusi global membuat sektor ini semakin tangguh,” katanya.
Dengan tema “Scaling Impact, Pioneering an Entrepreneurial Society”, forum ini membahas empat pilar utama yaitu regulasi, strategi pembiayaan inklusif, teknologi dan AI, serta peluang investasi akar rumput. Peserta forum juga mendapat kesempatan mengunjungi desa dan berdialog langsung dengan pelaku UMKM binaan Amartha. “Forum ini adalah awal dari dampak berkelanjutan melalui investasi, kebijakan, dan inovasi demi memajukan ekonomi akar rumput,” pungkas Taufan.
Amartha juga telah menggandeng sejumlah institusi internasional seperti Accion, Women’s World Banking, dan Maj Invest untuk memperkuat pembiayaan UMKM di pedesaan. Hal ini sejalan dengan prinsip tata kelola yang transparan dan akuntabel, sebagaimana disampaikan Komisaris Utama Amartha, Rudiantara. “Investasi di sektor akar rumput tidak hanya berdampak sosial, tapi juga memiliki stabilitas tinggi di tengah gejolak ekonomi global,” katanya.
Rudiantara mengatakan, dengan kondisi ekonomi global yang terus bergejolak dan berdampak pada industri makro, forum ini menyuarakan bahwa sektor mikro seperti akar rumput justru lebih stabil dan punya prospek yang baik. Melalui dukungan modal, teknologi yang inklusif, dan juga pendampingan, sektor akar rumput berpeluang menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi. “Tentu saja, untuk bisa menarik investor maupun lembaga keuangan bukan perkara mudah, karena umumnya kelompok akar rumput ini tidak memiliki riwayat kredit,” ungkapnya.
Sandiaga Uno, selaku bagian dari kepemimpinan forum ini menambahkan, pihaknya mendorong lahirnya entrepreneurial society sangat penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. “Forum ini menjadi wadah untuk membangun ekosistem wirausaha yang inklusif dan kompetitif,” ujarnya. (BC5)
















