balibercerita.com –
Tegap dalam balutan seragam Paskibraka, namun luwes ketika berada di atas panggung seni. Dua karakter yang tampak bertolak belakang itu justru menyatu dalam diri Komang Triyadi Cipta Wibawa.
Siswa kelas XI SMAN 1 Kuta yang akrab disapa Mang Cipta tersebut menjalani 2026 dengan pengalaman yang tak biasa. Di tengah kesibukannya sebagai pelajar dan seniman muda, ia dipercaya menjadi anggota Paskibraka Provinsi Bali.
Bagi remaja kelahiran Badung pada Desember 2009 ini, menjadi paskibraka bukan sekadar kebanggaan. Ada proses panjang yang membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, sekaligus rasa nasionalisme.
Menariknya, jauh sebelum mengenakan seragam paskibraka, Mang Cipta telah lebih dulu akrab dengan panggung. Tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan kesenian, ia mengenal seni sejak usia kanak-kanak. Menyanyi, menabuh, dan menari menjadi aktivitas yang terus ditekuninya. Bakat tersebut kemudian mengantarkannya mengoleksi sejumlah prestasi. Ia meraih juara III Tari Kebyar Duduk pada Pekan Seni Olahraga Pelajar Kabupaten Badung 2023.
Kemampuannya di bidang tarik suara juga membuahkan sejumlah penghargaan, diantaranya juara harapan I Lomba Nyanyi Pop Bali pada Pekan Budaya dan Kreativitas Daerah Kabupaten Badung 2024. Prestasi lainnya yakni juara III Lomba Menyanyi Solo Lagu Pop Bali di Badung Education Fair, dan juara II Lomba Nyanyi Kartini Award 2025 SMKP Cakra Nusantara.
Tak puas hanya tampil dalam berbagai kompetisi, Mang Cipta mulai menunjukkan keseriusannya di dunia musik. Menggunakan nama panggung Triyadi Cipta, ia telah merilis single pop Bali berjudul “Tresnan Beli” yang dapat disaksikan melalui YouTube.
Kemudian datang tantangan baru. Ketika kesempatan menjadi anggota Paskibraka Provinsi Bali terbuka, Mang Cipta tidak ingin melewatkannya. Motivasi memperkuat rasa nasionalisme menjadi salah satu alasan. Selain itu, jejak sang kakak yang sebelumnya menjadi anggota Paskibraka Kabupaten Badung turut mendorong langkahnya.
Dunia paskibraka ternyata memberi pengalaman yang berbeda. Seleksi dan latihan bersama peserta dari seluruh kabupaten/kota di Bali menuntut ketahanan fisik dan mental. Rasa lelah pun tak terhindarkan.
Namun, bagi Mang Cipta, proses tersebut justru menjadi bagian paling berharga. Kebersamaan dengan peserta lain membuat latihan yang berat terasa lebih ringan. “Menurut saya, banyak sekali manfaat yang didapat dalam paskibraka. Kita diajarkan untuk disiplin, bertanggung jawab, menghargai waktu, dan bekerja sama,” tuturnya.
Kini, tantangan berikutnya adalah menjaga keseimbangan. Sebagai pelajar, seniman, sekaligus anggota paskibraka, waktu menjadi sesuatu yang harus dikelola dengan cermat. Mang Cipta memilih disiplin sebagai kunci. Waktu untuk sekolah, latihan seni, dan kewajiban paskibraka harus dibagi secara proporsional.
Di SMAN 1 Kuta, alumni SD 3 Tuban dan SMPN 3 Kuta itu juga aktif sebagai pengurus ekstra band dan ekstra paskib. Dari dua kegiatan tersebut, ia terus belajar tentang kreativitas sekaligus kerja sama tim.
Perjalanan Mang Cipta menjadi gambaran bahwa dunia seni dan kedisiplinan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Seni memberinya ruang untuk berekspresi, sementara paskibraka menempa dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin dan bertanggung jawab. (BC5)















