Denpasar, balibercerita.com –
Hari raya Nyepi merupakan sebuah kearifan lokal yang mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan. Hal ini terbukti dari pengukuran kualitas udara saat Nyepi, 3 Maret lalu, oleh tim Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG.
Kepala BBMKG Wilayah III Cahyo Nugroho mengatakan, pengukuran kualitas udara pada hari Nyepi tahun 2022 ini dalam rangka memperingati Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-72 tahun 2022. Pelaksanaannya bekerja sama dengan Balai Wilayah III BMKG, UPT Provinsi Bali, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jabar, DLH Kota Denpasar dan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali dan Nusa Tenggara (P3E) KLHK.
Pengukuran tersebut menggunakan peralatan untuk mengukur partikel debu total (TSP) menggunakan HAZ-DUST EPAM-5000 dan Met One. Sementara, Multigas Sensync untuk mengukur karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2). Observasi kualitas udara di Bali dilakukan 28 Februari hingga 6 Maret 2022. Sedangkan, lokasi pengukuran dipilih yang mewakili daerah urban dan sub urban.
Hasil awal pengukuran secara umum menunjukkan terjadinya penurunan secara nyata konsentrasi gas polutan dan partikulat debu yang bervariasi pada setiap lokasi pada saat Nyepi dibandingkan hari normal.
Koordinator Bidang Klimatologi BMKG Dr. Donaldi Sukma Permana menjelaskan, memang belum ada angka pasti mengenai penurunan konsentrasi gas polutan dan partikel debu. Namun, jika dibandingkan dengan hari biasa maka terlihat penurunan konsentrasi sepanjang Nyepi. (BC13)

















