Pertama Ikut, Langsung Tembus Nasional: Kisah Siswa SMAN 2 Kuta Selatan Jadi Perwakilan Bali di Duta SMA

0
11
Duta SMA
I Komang Agus Wahyu Suliandika. (ist)

balibercerita.com –
Pengalaman mengikuti ajang Duta SMA tingkat nasional menjadi ruang belajar tersendiri bagi I Komang Agus Wahyu Suliandika, siswa kelas XI SMA Negeri 2 Kuta Selatan. Bukan hanya tentang kompetisi, perjalanan tersebut mengajarkan Wahyu pentingnya keberanian mencoba, kemampuan menyampaikan gagasan, hingga tanggung jawab membawa nama sekolah dan daerah.

Wahyu dipercaya menjadi perwakilan Provinsi Bali dalam seleksi Duta SMA tingkat nasional yang berlangsung di Yogyakarta pada 10–14 Agustus 2026. Capaian itu sekaligus menjadi pengalaman perdana bagi SMA Negeri 2 Kuta Selatan yang baru pertama kali mengikuti ajang tersebut.

Perjalanan Wahyu dimulai melalui seleksi daring pada 9 Mei 2026. Ia harus menyiapkan berbagai persyaratan, mulai berkas, portofolio, video profil hingga esai mengenai 7 KAIH di Bali yang mengangkat gagasan MATAKSU.
Video profil dibuat di lingkungan sekolah. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Wahyu ingin menunjukkan bahwa gagasan yang dibawanya berangkat dari pengalaman dan lingkungan pendidikan yang membentuk dirinya.

Baca Juga:   Sekolah Alam Jati Nusantara Jadi Ruang Belajar Baru Generasi Muda Bali Tentang Lingkungan

Tahap berikutnya berlangsung pada 10 Juni 2026 melalui wawancara. Dalam tahapan ini, Wahyu dituntut mampu menjelaskan gagasan yang dibawa, alasan program tersebut penting, hingga bagaimana penerapannya agar memberikan manfaat. “Proses wawancara ini juga menjadi salah satu momen yang berkesan bagi saya, karena saya ditemani teman-teman Jurnalis Toska sampai malam sambil menunggu waktu wawancara. Dari situ saya semakin merasa bahwa perjalanan ini bukan saya jalani sendiri,” ujarnya.

Setelah melalui rangkaian seleksi tersebut, Wahyu kemudian terpilih sebagai Duta SMA Provinsi Bali dan berhak melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional. Dalam persiapannya, Wahyu tidak hanya memperdalam materi program, tetapi juga mengasah kemampuan public speaking, wawasan, kepemimpinan dan cara membawa diri. Dukungan sekolah, Jurnalis Toska serta Jegeg Bagus Toska turut membantu proses tersebut, baik dalam pengembangan gagasan maupun persiapan teknis.

Salah satu gagasan yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Wahyu adalah MATAKSU. Konsep tersebut dibangun melalui tiga nilai, yakni Manah Abhinawa, Tatwa Jnana dan Kriya Suci Utsaha. Ketiganya menggambarkan semangat untuk bertumbuh, pentingnya pengetahuan serta bagaimana pengetahuan diwujudkan melalui tindakan. “Saya tidak ingin MATAKSU hanya menjadi sebuah nama program yang saya bawa ke nasional, tetapi saya ingin memahami nilai dan tujuan yang ada di dalamnya,” katanya.

Baca Juga:   Mendiktisaintek Suntik Semangat 4.751 Mahasiswa Baru Undiksha

Di tingkat nasional, Wahyu berinteraksi dengan pelajar dari berbagai provinsi. Proses tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus belajar melihat sebuah gagasan dari perspektif yang lebih luas. “Tantangan terbesarnya justru bagaimana membawa sesuatu yang berangkat dari Bali supaya bisa dipahami dalam konteks yang lebih luas. Saya datang bukan hanya sebagai Wahyu dari SMA Negeri 2 Kuta Selatan, tetapi sebagai perwakilan Provinsi Bali,” tuturnya.

Meski belum meraih gelar Duta SMA Nasional, Wahyu menilai pengalaman tersebut tetap menjadi bagian penting dari proses pendidikannya. Ia belajar bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari gelar yang diperoleh, tetapi juga dari keberanian mengambil kesempatan dan proses yang dijalani.

Baca Juga:   Gelar Uji Kompetensi, SMK PGRI 3 Denpasar Cetak Lulusan Siap Kerja di Industri Pariwisata

Menariknya, karena menjadi peserta pertama dari SMAN 2 Kuta Selatan, Wahyu harus membangun pengalamannya sendiri tanpa memiliki rujukan dari kakak kelas yang pernah mengikuti ajang serupa. “Kalau ditanya tantangannya, mungkin tantangan terbesarnya adalah menjadi orang pertama yang membuka jalan. Saya justru berpikir, kalau belum pernah ada yang memulai, mungkin memang harus ada yang mencoba menjadi yang pertama,” ujarnya.

Wahyu berharap pengalaman tersebut dapat menjadi langkah awal bagi siswa lainnya di SMAN 2 Kuta Selatan untuk lebih berani mengikuti berbagai ajang dan mengembangkan potensi diri. Menurutnya, kesempatan untuk belajar bisa datang dari berbagai tempat, termasuk kompetisi. Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk tidak menunggu merasa sempurna sebelum mencoba. (BC5)