balibercerita.com –
Desa Adat Pecatu menghadapi tantangan yang kian kompleks sebagai kawasan pariwisata internasional sekaligus pangempon Pura Luhur Uluwatu, salah satu Sad Kahyangan Jagat. Menyadari tantangan tersebut, Bendesa Adat Pecatu terpilih masa ayahan 2026–2031, I Made Sutama menyiapkan sejumlah program strategis, mulai dari regenerasi adat, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penguatan ekonomi desa adat, hingga mempererat sinergi dengan pemerintah guna memastikan adat tetap lestari di tengah derasnya arus globalisasi.
Berbekal pengalaman panjang sebagai birokrat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, Made Sutama menilai keseimbangan antara kemajuan pariwisata dan pelestarian adat menjadi kunci utama menjaga identitas Desa Adat Pecatu. Menurut Sutama, tantangan terbesar Desa Adat Pecatu adalah memastikan adat tetap hidup di tengah pesatnya perkembangan kawasan wisata. Karena itu, regenerasi menjadi program prioritas dengan melibatkan generasi muda sejak dini melalui kaderisasi dan aktivitas adat.
“Karena kita berada di daerah pariwisata, bagaimana adat ini tetap bisa berjalan. Generasi muda harus kita berdayakan sejak awal melalui regenerasi dan kaderisasi. Mereka harus mengenal adat desanya agar tidak sampai punah. Apalagi kita merupakan pengempon Pura Luhur Uluwatu sebagai salah satu Sad Kahyangan Jagat,” ujarnya.
Ia menjelaskan pelibatan generasi muda akan dimulai dari tempekan ngarep maupun tempekan serep. Menurutnya, tempekan serep saat ini didominasi generasi muda yang telah berkeluarga sehingga memiliki potensi besar menjadi penerus adat. “Tempekan ngarep dan tempekan serep harus kita libatkan. Mereka harus terbiasa ngayah sehingga belajar langsung memahami dan melestarikan adat,” katanya.
Selain regenerasi, budaya gotong royong juga akan terus diperkuat melalui berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, termasuk tradisi saling membantu saat ada warga yang meninggal dunia (magebagan) maupun kegiatan adat lainnya. Kebersamaan, menurutnya, menjadi perekat hubungan antarkrama di tengah derasnya modernisasi.
“Modernisasi tidak bisa kita hindari. Tetapi jangan sampai tradisi tergerus globalisasi. Ada tradisi yang memang harus dipertahankan, ada juga yang bisa disederhanakan tanpa menghilangkan nilai dan maknanya,” tegasnya.
Di bidang ketenteraman dan ketertiban, persoalan kemacetan menjadi perhatian utama. Made Sutama menilai persoalan tersebut harus diantisipasi melalui sinergi yang kuat antara desa adat dan desa dinas. “Hubungan desa adat dengan desa dinas ibarat purusa dan pradana. Sinergi ini harus terus dijaga, baik dalam penyediaan fasilitas umum maupun menjaga keamanan wilayah melalui kerja sama hansip dan pecalang,” jelasnya.
Selain penguatan sistem keamanan, pihaknya juga akan mendorong penataan parkir dan penambahan lampu penerangan jalan untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat maupun wisatawan. Di sektor ekonomi, Desa Adat Pecatu akan melakukan pemetaan seluruh potensi pendapatan asli desa adat. Optimalisasi pengelolaan kawasan Uluwatu serta berbagai potensi lainnya akan menjadi fokus guna meningkatkan kesejahteraan krama. “Semua potensi akan kita petakan agar pendapatan asli desa adat semakin optimal,” ujarnya.
Sutama juga memastikan akan melanjutkan berbagai program positif yang telah dirintis kepemimpinan sebelumnya. Hal itu akan dikembangkan dan disempurnakan sesuai kebutuhan masyarakat. Dalam bidang hukum, Desa Adat Pecatu akan membentuk tim ad hoc yang beranggotakan praktisi hukum asal Pecatu sebagai wadah memberikan pertimbangan hukum bagi desa adat maupun masyarakat. Tim tersebut akan melengkapi fungsi kerta desa dalam menangani berbagai persoalan hukum. Peningkatan kualitas SDM juga menjadi perhatian melalui pembekalan bagi pecalang dan hansip, serta peningkatan pemahaman hukum di tengah masyarakat.
Sebelum menetapkan program kerja, Made Sutama memastikan akan menyerap aspirasi langsung dari seluruh banjar melalui agenda safari keliling agar setiap kebijakan benar-benar lahir dari kebutuhan krama. Ia juga menegaskan komitmennya merealisasikan bantuan hari raya Nyepi sebesar Rp1 juta bagi setiap kepala keluarga. Program tersebut telah diperhitungkan dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp2 miliar, sedangkan program-program lainnya akan disesuaikan dengan kondisi keuangan desa adat.
Di sisi lain, Sutama memberikan apresiasi kepada Bupati Badung yang telah merespons usulan penataan kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Pecatu. Menurutnya, langkah tersebut akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi desa adat. “Kami berterima kasih kepada Bupati Badung karena telah merespons aspirasi desa adat. Penataan kawasan ini akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Kami siap mendukung serta terus berkoordinasi dengan pemerintah agar seluruh proses berjalan sesuai ketentuan hukum,” ujarnya.
Ia menegaskan, Desa Adat Pecatu akan aktif memberikan berbagai masukan dalam setiap proses penataan sekaligus mengawal kepentingan masyarakat setempat.
Terkait akses menuju Pantai Bingin yang hingga kini masih terkendala kondisi jalan sempit. Menurutnya, apabila pelebaran jalan belum memungkinkan dilakukan, maka diperlukan rekayasa dan pengaturan lalu lintas yang lebih baik agar mobilitas masyarakat maupun wisatawan tetap aman, nyaman, dan lancar. “Dulu sudah pernah saya sampaikan, jalan menuju Pantai Bingin memang sempit. Kalau memang tidak bisa dilebarkan, paling tidak harus diatur dengan baik sehingga masyarakat dan wisatawan tetap merasa nyaman saat melintas,” pungkasnya.
Untuk diketahui, sebelum dipercaya memimpin Desa Adat Pecatu I Made Sutama telah meniti karier di berbagai jabatan strategis, mulai sebagai Kabag Umum Setda Badung (2002–2004), Kasatpol PP (2004–2006), Kepala Dinas Perhubungan (2006–2008), Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (2008–2013), Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP (2016–2017), Kepala Dinas Pendapatan Daerah (2017–2022), hingga kini menjabat Ketua KONI Badung periode 2026–sekarang. Ia juga merupakan lulusan Fakultas Hukum dan Magister Hukum Universitas Udayana. (BC5)


















