Laksana Becik Ajak Warga Bali Kelola Sampah Upakara Melalui Program Yadnya Resik

0
1
Yadnya Resik
Proses pencacahan sampah upakara yang telah dikumpulkan dari program Yadnya Resik di Pura Pesimpangan Ulun Danu Beratan yang berada di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Rabu (29/7). (ist)

balibercerita.com –
Sebagai pulau seribu pura, Bali dikenal memiliki sejumlah upacara agama. Dalam pelaksanaannya banyak menghasilkan sampah yang terkadang tidak dikelola dengan baik. Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan lahirnya program Yadnya Resik yang digagas oleh Komunitas Laksana Becik di bawah naungan Yayasan Laksana Becik Bali.

Ketua Laksana Becik, Putu Resa Kertawedangga mengatakan, inisiatif Yadnya Resik tidak hanya bertujuan mengajak masyarakat lebih peduli terhadap pengelolaan sampah sisa upakara, tetapi juga menjadi bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam mewujudkan Kabupaten Badung yang semakin bersih.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar persoalan sampah sisa upakara dapat ditangani secara berkelanjutan. Semakin banyak masyarakat yang terlibat, maka semakin besar pula peluang terciptanya lingkungan yang bersih dan nyaman. “Program ini sebagai upaya untuk memperkuat komitmen masyarakat dalam hal pemilahan sampah serta kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan,” kata Resa, di sela-sela kegiatan.

Baca Juga:   Perkuat Ketahanan Pangan, Bupati Adi Arnawa Dorong Kolaborasi Perumda MGS dan Food Station Jakarta

Program Yadnya Resik ini pertama kalinya dilaksanakan di Pura Pesimpangan Ulun Danu Beratan yang berada di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, pada Rabu, 29 Juli 2026. Kegiatan perdana tersebut sekaligus menjadi bagian dari kampanye Badung Bersih yang bertujuan mendukung berbagai program pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan hidup.

Dalam pelaksanaannya, Komunitas Laksana Becik menggandeng Sekaa Teruna (ST) Girindra Putra Banjar Tegalnaringan, Desa Sobangan. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung. Dalam hal ini, DLHK Badung menurunkan satu unit mesin pencacah sampah organik untuk membantu penanganan sampah upakara langsung di lokasi.

Kolaborasi antara komunitas, organisasi kepemudaan, dan pemerintah daerah diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah sisa upakara secara tepat. Resa berharap, kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan hadir di berbagai wilayah lainnya sehingga masyarakat memperoleh pendampingan dalam mengelola sampah sisa upacara keagamaan. “Melalui kegiatan ini, kami berharap, ke depan bisa hadir di tengah masyarakat untuk membantu masyarakat dalam pengelolaan sampah sisa upakara,” katanya.

Baca Juga:   Masuk Sasaran Prioritas Vaksin Booster? Begini Cara Cek Jadwal Vaksinasinya

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung, Rai Warastuthi menyampaikan apresiasi atas lahirnya program Yadnya Resik yang diinisiasi oleh Komunitas Laksana Becik. Menurutnya, kehadiran program tersebut dapat menjadi salah satu upaya bersama dalam membantu penanganan sampah sisa upakara yang selama ini masih menjadi tantangan di lingkungan masyarakat.

DLHK Badung juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga maupun lokasi pelaksanaan upacara keagamaan. Selain membiasakan memilah sampah sejak dari sumbernya, masyarakat juga diharapkan tidak lagi membuang sampah sembarangan agar lingkungan tetap bersih, sehat, dan lestari.

Perwakilan masyarakat, Wayan Sumadana menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Laksana Becik Bali lantaran telah menginisiasi program Yadnya Resik. Terlebih program ini telah membantu menyelesaikan sampah sisa upakara, yang selama ini belum dapat dikelola.

Baca Juga:   Badung Mulai Groundbreaking JLS dan Shortcut Berawa–Umalas–Kedampang–Teuku Umar Barat, Proyek Rp2,9 Triliun Ditargetkan Urai Kemacetan Kawasan Wisata

“Kami dari warga, utamanya dari warga semetonan Pura Pesimpangan Danu Bratan, sangat mengapresiasi, matur suksma banget saking Yayasan Laksana Becik Bali berkolaborasi, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Badung, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung,” ujarnya.

Pihaknya pun berharap kegiatan ini tidak terhenti hanya sekali. Terlebih karakter sampah upakara saat ini tidak hanya dari organik saja, namun semakin berkembang dengan adanya anorganik. Sampah organik diharapkan dapat diolah menjadi kompos, kemudian anorganik dapat dijadikan barang bermanfaat lainnya.

“Mudah-mudahan ini dengan ada kegiatan seperti ini di tempat atau di warga kami atau di pos semetonan kami, bisa berlanjut kepada tempat-tempat atau di hal-hal lain untuk menangani sampah-sampah hasil upacara seperti ini,” paparnya. (BC9)