balibercerita.com –
Memasuki Gang Tangkas, Jalan Pasraman, Banjar Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, suasana berbeda langsung terasa. Sebanyak 48 bendera negara peserta Piala Dunia 2026 berjajar rapi di sepanjang jalan, berkibar diterpa angin dan menciptakan nuansa layaknya kampung sepak bola internasional.
Pemandangan unik ini tak hanya menarik perhatian warga sekitar, tetapi juga para pengendara yang melintas. Warna-warni bendera dari berbagai penjuru dunia menghadirkan atmosfer turnamen terbesar sepak bola dunia jauh sebelum peluit kick-off dibunyikan.
Namun, di antara deretan bendera negara-negara peserta tersebut, ada satu yang paling mencuri perhatian. Tepat di depan rumah Koordinator Komunitas Pecinta Bola Kedonganan, I Made Sumerta yang akrab disapa Lodra, berdiri tegak bendera merah putih dengan ukuran paling besar dan tiang paling tinggi dibandingkan bendera lainnya.
Bagi Lodra, keberadaan puluhan bendera negara peserta Piala Dunia bukan sekadar simbol dukungan terhadap tim favorit. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap Indonesia harus selalu berada di posisi teratas.
“Bendera Indonesia kami pasang paling tinggi dan paling besar. Ini sebagai bentuk nasionalisme dan rasa cinta kepada negara. Walaupun kami mendukung tim-tim peserta Piala Dunia, Indonesia tetap yang utama,” tegasnya.
Merah putih yang menjulang di tengah lautan bendera dunia seolah menjadi simbol bahwa sepak bola mampu menyatukan berbagai perbedaan, tanpa menghilangkan identitas dan kecintaan terhadap tanah air.
Di balik semarak Kampung Piala Dunia tersebut, tersimpan tradisi panjang yang telah dijaga Komunitas Pecinta Bola Kedonganan selama lebih dari dua dekade. Tradisi itu bermula pada Piala Dunia 2002 ketika Lodra dan rekan-rekannya mulai menggelar nonton bareng (nobar) secara sederhana di rumah lamanya di kawasan Gang Labaros, Kedonganan.
Saat itu, bendera-bendera masih dipasang menggunakan bambu. Seiring waktu, antusiasme masyarakat terus meningkat. Memasuki perhelatan Piala Eropa 2018, komunitas mulai menggunakan tiang besi agar pemasangan lebih rapi, kokoh, dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi cuaca.
“Dulu masih sederhana menggunakan bambu. Sekarang kami memakai tiang besi supaya lebih rapi dan aman. Jarak dan tingginya juga disamakan agar terlihat tertata serta tidak mengganggu kabel listrik maupun jaringan telekomunikasi,” jelas Lodra.
Tahun ini, sebanyak 48 bendera negara peserta dipasang dengan ukuran standar sekitar 1,75 meter x 1,5 meter. Sementara, beberapa negara unggulan yang memiliki banyak pendukung dibuat dalam ukuran jumbo mencapai 5 meter x 7 meter dan dipasang pada tiang setinggi sekitar enam meter.
Untuk mewujudkan Kampung Piala Dunia tersebut, komunitas menghabiskan anggaran sekitar Rp15 juta hingga Rp16 juta. Sebagian bendera merupakan koleksi dari Piala Dunia maupun Piala Eropa sebelumnya yang masih layak digunakan, sementara sisanya diganti dengan yang baru.
Meski identik dengan sepak bola, komunitas ini sejatinya dibangun di atas semangat persaudaraan. Setiap turnamen besar, anggota komunitas memilih tim unggulan masing-masing dan mengikuti kompetisi prediksi yang berlangsung hingga partai final.
Lodra sendiri menjagokan Spanyol sebagai calon juara dunia 2026. Sementara, anggota lainnya memiliki pilihan berbeda, mulai dari Argentina, Inggris, Brasil hingga negara-negara favorit lainnya. Perbedaan dukungan itu justru menjadi warna yang mempererat kebersamaan.
“Melalui nobar ini kami ingin mempererat hubungan pertemanan dan persaudaraan. Bukan hanya membahas sepak bola, tetapi juga berbagai hal positif yang berkembang di masyarakat, termasuk ide-ide pembangunan dan inovasi untuk lingkungan sekitar,” ujarnya.
Saat ini komunitas nobar tersebut diikuti sekitar 150 anggota yang berasal tidak hanya dari Kedonganan, tetapi juga dari Tuban, Kuta, Jimbaran, hingga Denpasar. Pada pertandingan biasa, jumlah penonton yang hadir berkisar 50 orang. Namun ketika laga besar berlangsung, jumlahnya bisa menembus lebih dari 100 orang.
Menariknya, seluruh kegiatan nobar digelar tanpa pungutan biaya. Konsumsi yang tersedia sebagian besar berasal dari gotong royong dan sumbangan sukarela para anggota komunitas. Tahun ini, kegiatan juga diselingi dengan sosialisasi olahraga Orado, cabang olahraga yang turut dinahkodai Lodra sebagai Ketua Orado Badung.
Selain itu, panitia menyiapkan hadiah kompetisi prediksi dengan total mencapai Rp20 juta, terdiri dari Rp15 juta untuk juara pertama dan Rp5 juta bagi runner-up. Meski hadiah yang diperebutkan cukup besar, semangat kebersamaan tetap menjadi roh utama kegiatan tersebut.
Bahkan, para pemenang kerap menyisihkan sebagian hadiah yang diterima untuk mendukung kegiatan sosial maupun operasional komunitas. “Semua dilakukan dengan keikhlasan. Yang penting kegiatan ini bisa terus berjalan dan memberi manfaat bagi lingkungan,” tuturnya. (BC5)



















