Ketika Penglipuran Merayakan Masa Depan Lewat Festival

0
6
Penglipuran
Suasana Desa Penglipuran. (BC5)

balibercerita.com –
Di balik deretan rumah adat yang tertata rapi dan jalan desa yang selalu bersih, Desa Wisata Penglipuran tengah menyiapkan sebuah perayaan yang lebih besar dari sekadar festival budaya. Pada 9–11 Juli 2026 mendatang, Penglipuran Festival XIII akan kembali digelar. Kali ini, festival tersebut hadir membawa pesan yang lebih dalam tentang masa depan pariwisata Bali.

Mengusung tema “Harmoni Bumi Penglipuran, Menuju Pariwisata yang Inklusif, Berkelanjutan, dan Generatif”, festival tahun ini dirancang bukan hanya sebagai tontonan bagi wisatawan, melainkan ruang perjumpaan antara budaya, lingkungan, ekonomi rakyat, dan kebersamaan masyarakat desa.

Manager Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa mengatakan bahwa festival tersebut menjadi wadah untuk memperlihatkan wajah Penglipuran yang sesungguhnya. Bukan hanya desa wisata yang indah dan bersih, tetapi desa yang hidup, terus bertumbuh, dan tetap berpegang pada akar budayanya. “Penglipuran tidak hanya ingin dikenal sebagai desa wisata yang indah, bersih, dan tertata. Kami ingin Penglipuran menjadi contoh desa wisata yang hidup, berbudaya, inklusif, dan regeneratif,” ujarnya.

Baca Juga:   Kawasan Candidasa akan Ditata Ulang, Begini Perencanaan Bupati Karangasem

Semangat kebersamaan itu akan terlihat sejak hari pertama festival. Desa-desa yang memiliki hubungan sosial dan religius atau babanuan dengan Penglipuran akan dilibatkan dalam rangkaian kegiatan. Salah satunya Desa Bayung Gede di Kintamani yang dipercaya sebagai asal-usul leluhur masyarakat Penglipuran.

Dari Pura Yanika, masyarakat akan berjalan bersama menuju kawasan Tugu Pahlawan dalam prosesi budaya yang sarat makna. Langkah-langkah mereka seakan menjadi pengingat bahwa hubungan antardesa adat tidak hanya tersambung oleh sejarah, tetapi juga oleh nilai persaudaraan yang diwariskan turun-temurun.

Festival kemudian berlanjut dengan berbagai pertunjukan seni. Mulai dari parade gebogan, tarian kolosal, hingga pementasan Tari Palegongan “Raksan Gumi” yang sebelumnya tampil pada Pesta Kesenian Bali. Suara gamelan dan gerak para penari akan menghidupkan suasana desa yang selama ini menjadi ikon pariwisata Bali.

Penglipuran Festival bukan hanya tentang seni dan hiburan. Di hari kedua, perhatian akan diarahkan pada isu yang kini menjadi tantangan besar Bali, yakni sampah dan lingkungan. Melalui diskusi, edukasi, hingga lokakarya, masyarakat diajak memahami pentingnya memilah sampah sejak dari rumah. “Tujuannya menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa sampah, meskipun terlihat kecil, sangat penting untuk dipilah,” kata Sumiarsa.

Baca Juga:   Meski Masih Proyek, Kawasan IKN Telah Mampu Jadi Destinasi Wisata

Di sela-sela kegiatan itu, wisatawan juga dapat berinteraksi langsung dengan produk-produk lokal masyarakat. Jeruk siam dari Bayung Gede, kerajinan bambu dari Kayubihi, hingga lokakarya membuat dan melukis keben akan menjadi pengalaman yang mempertemukan wisatawan dengan kehidupan desa yang sesungguhnya.

Hari terakhir festival menghadirkan nuansa yang berbeda. Yoga massal akan digelar di tengah suasana desa yang asri. Kelompok penyandang disabilitas juga akan terlibat dalam berbagai kegiatan sebagai wujud komitmen Penglipuran membangun pariwisata yang inklusif dan memberi ruang bagi semua kalangan.

Meski menargetkan sekitar 4.000 kunjungan per hari selama festival berlangsung, Penglipuran tidak ingin terjebak dalam euforia angka. Saat ini kunjungan harian ke desa tersebut berkisar 2.000 hingga 2.500 wisatawan. Namun bagi Penglipuran, keberhasilan bukan semata-mata soal banyaknya orang yang datang. “Kami tidak ingin Penglipuran mengalami overtourism. Keberhasilan desa wisata bagi kami tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi dari kemampuan pariwisata menjaga adat, lingkungan, tata ruang, rumah adat, dan kesejahteraan krama,” tegas Sumiarsa.

Baca Juga:   Desa Adat Pecatu Ajukan Audiensi Terkait Pengelolaan Pantai Bingin, Harap Ada Dialog Bersama Pemerintah

Pernyataan itu bukan sekadar slogan. Sepanjang tahun 2026, Penglipuran terus melakukan berbagai pembenahan, mulai dari pengelolaan sampah, renovasi rumah adat, pembangunan relief sejarah desa, hingga pembentukan badan usaha desa adat. Semua langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kehidupan masyarakat.

Karena itulah, Penglipuran Festival 2026 sejatinya bukan hanya perayaan budaya. Festival ini adalah cerita tentang sebuah desa yang berusaha tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya. Tentang masyarakat yang ingin menyambut wisatawan tanpa mengorbankan alam dan tradisi. Dan tentang keyakinan bahwa pariwisata terbaik bukanlah yang paling ramai, melainkan yang mampu memberi manfaat bagi generasi hari ini sekaligus generasi yang akan datang. (BC5)