balibercerita.com –
Konsistensi dalam menjaga kebersihan lingkungan terus digaungkan di kawasan wisata Pantai Legian, Kuta, Badung. Melalui gerakan Beach Clean Up yang rutin dilaksanakan setiap Jumat pagi, tim WPN (Wayan Puspa Negara) bersama Komunitas BumiKita menunjukkan bahwa tidak ada kata menyerah dalam mengatasi permasalahan sampah. Gerakan yang telah berjalan selama kurang lebih enam tahun ini menjadi motor penggerak kesadaran lingkungan di wilayah tersebut.
Dalam aksi yang berlangsung pada Jumat (22/5), inisiator gerakan sekaligus Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Badung, I Wayan Puspa Negara menegaskan bahwa fokus utama dari kegiatan ini adalah memperkuat kebiasaan memilah sampah, baik bagi pelaku usaha maupun masyarakat luas. Berkaca dari negara-negara maju, keberhasilan pengelolaan sampah selalu dimulai dari kedisiplinan warganya dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.
Oleh karena itu, aksi bersih-bersih pantai ini tidak hanya sekadar mengumpulkan sampah, tetapi selalu diisi dengan sosialisasi intensif mengenai tata cara pemilahan sampah yang dibagi menjadi tiga kategori, yakni organik, anorganik, dan residu. ”Tujuan sebenarnya adalah memperkuat kebiasaan dari pelaku usaha dan masyarakat agar senantiasa sadar bahwa lingkungan harus dijaga. Kalau kita menjaga lingkungan, maka lingkungan akan menjaga kita. Sampah adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Puspa Negara di sela-sela kegiatan.
Langkah penguatan kebiasaan ini dinilai sangat krusial, terlebih menjelang rencana beroperasinya fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Sebab, ketika fasilitas pengolahan sampah tersebut selesai dibangun, hanya akan menerima pasokan sampah yang sudah terpilah dengan baik antara organik dan anorganik.
“Habit ini harus kita ciptakan terus-menerus, terutama kepada pelaku usaha, horeka (hotel restoran dan kafe/katering) serta turunannya. Kami sangat konsen dalam upaya menjaga lingkungan, dan sosialisasi ini akan terus kami berikan. Inti dari semuanya adalah sampah harus dipilah,” tegasnya.
Puspa Negara menjelaskan, tingkat kepatuhan warga lokal di Kelurahan Legian dalam memilah sampah sebenarnya sudah sangat tinggi, yakni mencapai 95 persen. Warga lokal telah terbiasa menyetor sampah secara teratur setiap pagi sesuai dengan jadwal dan kategorinya. Namun, tantangan terbesar saat ini berada pada sektor pelaku usaha, horeka dan turunannya, hingga penghuni rumah indekos yang belum tersentuh sosialisasi secara merata. Untuk itu melalui gerakan Beach Clean Up ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran pelaku usaha, horeka, dan turunannya dalam memilah sampah.
Terlebih kawasan Legian memiliki dinamika populasi yang unik dengan perbedaan karakteristik penduduk antara siang dan malam hari. Kondisi ini membuat edukasi massal di ruang publik seperti pantai menjadi strategi yang efektif. ”Itu sebabnya kita kumpulkan semuanya di sini. Terutama para staf yang ngekost, yang belum tersentuh sosialisasi, kita berikan sosialisasi pemilahan sampah di sini. Saya selaku anggota perwakilan masyarakat tentu mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan edukasi kepada masyarakat,” pungkasnya. (BC18)

















