Ini Alasan Bali Dipilih Jadi Tuan Rumah Red Bull Cliff Diving World Series 2026

0
1
Red Bull Cliff Diving
Broken Beach, Nusa Penida. (ist)

balibercerita.com –
Bali kembali menjadi sorotan dunia internasional. Kali ini, Pulau Dewata dipercaya menjadi bagian dari Red Bull Cliff Diving World Series 2026 pada 20-23 Mei. Mengusung tema “Alam, Budaya, dan Aksi Taraf Dunia dalam Satu Lokasi”, Indonesia perdana menjadi tuan rumah dengan mengambil lokasi Broken Beach Nusa Penida.

Ajang olahraga ekstrem yang pertama kali digelar pada 2009 itu menghadirkan aksi para atlet dunia melompat dari ketinggian 21 (untuk wanita) hingga 27 meter (untuk pria) ke laut terbuka dengan tantangan alam yang berbeda di setiap lokasi.

Sports Director Red Bull Cliff Diving, Orlando Duque mengatakan, Bali dipilih bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga karena memiliki karakter lokasi yang unik dan menantang untuk olahraga cliff diving. “Lokasi di Bali sangat unik dan memberikan pengalaman luar biasa dengan alam yang indah namun memiliki situasi yang ekstrem,” ujarnya di Sanur, Rabu (20/5).

Duque mengungkapkan Bali sebenarnya sudah direncanakan menjadi tuan rumah sejak 2020. Namun rencana tersebut harus tertunda akibat pandemi Covid-19. Kini, Bali akhirnya dipercaya masuk dalam kalender resmi Red Bull Cliff Diving World Series dan menjadi salah satu lokasi paling spesial musim ini.

Baca Juga:   IODI Badung Perkuat Pembinaan Atlet, Siap Tembus Ajang Nasional

Menurut Duque, Red Bull selalu mencari venue dengan karakter berbeda di setiap negara. Beberapa seri memang digelar di tengah kota agar lebih dekat dengan masyarakat, namun lokasi seperti Bali memberikan pengalaman alam yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. “Red Bull akan terus meninjau lokasi-lokasi unik. Kadang di tengah kota agar lebih dekat dengan masyarakat, namun tidak menutup kemungkinan seperti di Bali ini,” katanya.

Ia menjelaskan cliff diving berbeda dengan loncat indah di kolam renang. Dalam loncat indah, kondisi venue cenderung seragam. Sementara cliff diving membuat atlet harus beradaptasi dengan kondisi alam, cuaca, hingga karakter tebing yang selalu berubah. Dalam cliff diving setiap atlet dituntut selalu beradaptasi karena lokasi dan tantangannya berbeda di setiap tempat.

Baca Juga:   Ribuan Pelari Siap Ramaikan Adhyaksa International Run 2026 di The Nusa Dua

Faktor alam itulah yang membuat olahraga ini dianggap sangat ekstrem dan menuntut kesiapan fisik maupun mental atlet. Tantangan di lapangan itulah yang membuat cliff diving menjadi sangat ekstrem.

Duque juga mengungkapkan, sebelumnya ronde 1 dan 2 sempat direncanakan berlangsung di Air Terjun Kroya, Buleleng. Namun kondisi cuaca dan hujan membuat kedalaman air berubah sehingga venue dinilai tidak ideal untuk kompetisi. Walaupun beberapa titik sebenarnya telah memenuhi syarat kedalaman, faktor keamanan dan kenyamanan atlet tetap menjadi prioritas utama. “Untuk membuat kompetisi ideal akhirnya dibatalkan karena faktor keamanan dan kenyamanan,” katanya.

Meski batal digelar di Kroya, pihak penyelenggara masih membuka peluang menggunakan lokasi tersebut pada musim berikutnya. Sementara ronde awal musim ini akan dipindahkan ke Broken Beach, Nusa Penida. Duque menilai musim 2026 menjadi salah satu musim paling menarik dalam sejarah Red Bull Cliff Diving karena menghadirkan lokasi yang sangat beragam, mulai dari Bali hingga Oman yang untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah.

Baca Juga:   Kartini Go Surf 2026, DPRD Badung Dorong Perempuan Tampil dan Berprestasi

Dalam kompetisi ini, sistem penilaian dilakukan oleh lima juri dengan standar yang mirip loncat indah, mulai dari teknik lompatan, posisi tubuh, hingga presisi saat masuk ke air. Selain panorama tebing, aspek keselamatan juga menjadi faktor utama dalam menentukan venue. Lokasi harus memiliki kedalaman minimal lima meter dengan kondisi dasar laut yang aman. “Minimum kedalaman lima meter dan dasar lautnya juga harus pasir. Kalau dasarnya bebatuan maka kedalamannya harus lebih dari lima meter,” jelasnya.

Tak hanya itu, akses menuju rumah sakit, kecepatan penanganan medis, hingga jalur evakuasi atlet setelah melompat juga menjadi pertimbangan penting sebelum venue dinyatakan layak digunakan.

Orlando Duque sendiri merupakan legenda cliff diving dunia asal Kolombia. Ia dikenal sebagai juara dunia 13 kali dan pemegang dua Guinness World Record sebelum pensiun pada 2019 dan kini menjadi salah satu sosok penting di balik perkembangan Red Bull Cliff Diving World Series. (BC5)