balibercerita.com –
Upaya memperkuat keterlibatan pelaku lokal dalam industri pariwisata Bali terus didorong, salah satunya melalui ajang Food, Hotel, and Tourism Bali (FHTB) yang dinilai mampu menjadi jembatan antara produsen lokal dengan pasar industri, khususnya sektor perhotelan dan usaha pariwisata.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai, peran sektor pariwisata yang menyumbang sekitar 66 persen terhadap perekonomian daerah membuat kegiatan seperti ini menjadi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan industri.
“Pemprov Bali tentu sangat mendukung kegiatan ini. Kita tahu bahwa sektor pariwisata itu adalah 66 persen yang mendukung perekonomian kita. Dengan adanya kegiatan terutama di makanan dan minuman dan pertemuan dengan hotel dan beberapa pelaku usaha ini sangat bagus. Kita mendukung sepenuhnya kegiatan ini karena ini memang betul-betul kita butuhkan dalam dunia pariwisata kita,” ujarnya, Selasa (28/4) di sela-sela pembukaan FHTB 2026, di Nusa Dua.
Menurutnya, FHTB menjadi salah satu sarana strategis dalam mendorong produk lokal agar dapat masuk ke dalam ekosistem pariwisata. Pemerintah saat ini tengah menggalakkan agar produk-produk lokal tidak hanya diproduksi, tetapi juga mampu menembus pasar industri. “Kita sedang menggalakkan produk-produk lokal kita bisa diterima dan masuk ke bursa pariwisata. Ini sangat penting. Ke depan saya harapkan semakin banyak produk lokal yang dipajang di sini,” katanya.
Ia mencontohkan, sejumlah produk seperti arak Bali sudah mulai mendapat ruang dalam pameran tersebut. Ke depan, produk pertanian lokal seperti buah-buahan juga diharapkan dapat ikut ditampilkan dan dilirik oleh hotel serta pelaku usaha lainnya. Hal ini dinilai dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengingat produk yang dihasilkan telah dibina agar memenuhi standar kualitas dan organik.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kekuatan FHTB terletak pada kemampuannya mempertemukan langsung antara penyedia produk dengan pembeli. Koneksi ini dinilai penting dalam memperkuat rantai pasok pariwisata Bali sekaligus mendorong sektor kuliner.
“Festival ini mempertemukan antara penyedia dan buyer dari hotel maupun pelaku usaha lainnya. Ini sangat menunjang pariwisata Bali dan juga kuliner kita. Kekuatan pariwisata Bali juga terletak pada bagaimana UMKM bisa mendukung pariwisata, dan ini kita hubungkan melalui kegiatan seperti ini, ada koneksi antara penyedia dengan pemakai,” jelasnya.
Senada dengan itu, Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih mengapresiasi penyelenggaraan FHTB yang dinilainya memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha. Ia bahkan mengaku pernah merasakan langsung manfaat ajang tersebut saat menjadi exhibitor sekitar sepuluh tahun lalu. “Saya 10 tahun yang lalu menjadi exhibitor di sini dan menerima manfaat yang sangat baik dengan adanya FHTB ini. Untuk itu saya ucapkan terima kasih,” ujarnya.
Ia mendorong agar ke depan FHTB terus melibatkan IKM dan UKM sebagai bagian penting dalam pameran, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Menurutnya, pelaku usaha kecil yang mendapatkan manfaat akan terus kembali berpartisipasi dan menciptakan hubungan yang berkelanjutan dengan penyelenggara.
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam ajang tersebut. Ia menilai kehadiran booth resmi dari pemerintah daerah di Bali masih perlu ditingkatkan, terutama jika dibandingkan dengan partisipasi dari BUMN dan daerah lain. “Saya sangat berharap adanya booth dari Pemerintah Provinsi Bali. Tadi saat berkeliling saya melihat ada dari BUMN, ada dari Pemerintah Kota Tangerang, tapi belum ada dari dinas di Provinsi Bali maupun kabupaten di Bali. Ini bukan kritik, tapi masukan,” ujarnya.
Sebagai pameran yang digelar dua tahun sekali, FHTB dinilai harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan. “Bagaimanapun juga ini adalah exhibition yang dilaksanakan dua tahun sekali, sehingga kolaborasi antar stakeholder tentu harus terus kita dorong,” pungkasnya. (BC5)
















