Kasus Stroke Meningkat, Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama

0
14
Stroke
Ilustrasi pola hidup tidak sehat. (ist)

balibercerita.com –
Kasus stroke terus menunjukkan tren peningkatan, bahkan kini mulai banyak menyerang usia muda. Kondisi ini tidak lepas dari perubahan gaya hidup modern yang cenderung minim aktivitas dan kurang memperhatikan kesehatan.

Co-Chair Bali International Neurovascular Intervention Conference (BLINC), Dr. dr. Kumara Tini, Sp.S(K), FINS, FINA, menjelaskan bahwa stroke merupakan bagian dari lifestyle disease atau penyakit akibat gaya hidup, serupa dengan penyakit jantung. “Stroke itu tidak terjadi tiba-tiba. Ada faktor gaya hidup yang mendasari, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan lemak darah, hingga kebiasaan kurang bergerak atau sedentary lifestyle,” ujarnya saat acara Bali International Neurovascular Intervention Conference (BLIBC) 2026 Stroke Wars Beyond The Circle, di BICC.

Menurutnya, kemajuan teknologi justru turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko stroke. Aktivitas yang semakin mudah dan serba instan membuat masyarakat cenderung kurang bergerak, sehingga memperbesar potensi penyakit metabolik.

Baca Juga:   Lonjakan Penduduk Picu Kekurangan Puskesmas di Kuta Selatan

Untuk itu, pencegahan menjadi kunci utama. Ia menekankan pentingnya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat. “Deteksi sebenarnya sudah bisa dilakukan karena alatnya sudah tersedia. Tinggal bagaimana sistemnya terus disempurnakan. Selain itu, pemulihan pasien juga harus dilatih secara berkelanjutan,” jelasnya.

Di Bali, upaya penanganan stroke juga terus ditingkatkan. Salah satunya melalui sistem code stroke yang telah diterapkan, terutama di Rumah Sakit Prof. Ngoerah. Sistem ini memungkinkan penanganan cepat bagi pasien stroke, khususnya dalam kurun waktu emas kurang dari 24 jam. “Kalau pasien datang kurang dari 4,5 jam, bisa langsung diberikan obat melalui pembuluh darah untuk melarutkan sumbatan. Jika lebih dari itu, bisa dikombinasikan dengan tindakan menggunakan kateter atau mechanical thrombectomy,” paparnya.

Baca Juga:   RS Kasih Ibu Kedonganan Layani 20 Persen Pasien Asing, Siapkan Tim Multibahasa di Kawasan Wisata

Sementara itu, Conference Chair BLINC, dr. Affan Priyambodo, Sp.BS, Subsp.N-Vas, mengungkapkan bahwa secara global terdapat sekitar 17 juta kasus stroke setiap tahunnya. Di Indonesia, prevalensinya mencapai sekitar 10,9 per 1.000 penduduk. “Sebagian besar kasus adalah stroke sumbatan. Bahkan, stroke menjadi salah satu penyakit dengan pembiayaan tertinggi, hampir menyalip penyakit jantung,” ujarnya.

Peningkatan kasus tidak hanya dipengaruhi oleh faktor penyakit, tetapi juga meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, terutama sejak era BPJS. “Sekarang orang lebih sadar terhadap kesehatannya. Tapi di sisi lain, pola hidup juga berubah, sehingga kasus tetap meningkat,” jelasnya.

Data yang dihimpun dari Rumah Sakit Prof. Ngoerah menunjukkan adanya peningkatan signifikan kasus stroke pada usia muda. Jika sebelumnya kasus pada usia di bawah 45 tahun kurang dari 10 persen, dalam 11 tahun terakhir meningkat menjadi lebih dari 20 persen. “Ini alarm bagi kita semua. Usia 30-an pun sudah ada yang terkena stroke, terutama karena pola makan dan gaya hidup,” tegasnya.

Baca Juga:   Kasus DBD di Tabanan Fluktuatif, Warga Diminta Aktif Lakukan PSN

Dari sisi fasilitas, Bali dinilai sudah cukup siap dalam penanganan stroke. Berbagai rumah sakit telah dilengkapi alat diagnostik seperti CT scan dan MRI, bahkan teknologi MRI 3 Tesla yang tergolong canggih. Namun demikian, kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin masih menjadi tantangan. Pasalnya, layanan medical check-up belum sepenuhnya ditanggung oleh BPJS maupun asuransi. “Fasilitas sebenarnya sudah ada dan cukup terjangkau, mulai dari ratusan ribu rupiah. Tinggal kesadaran masyarakat untuk memanfaatkannya,” pungkasnya.

Dengan meningkatnya kasus stroke, para ahli mengingatkan pentingnya perubahan gaya hidup sejak dini sebagai langkah utama pencegahan, sekaligus mengurangi beban kesehatan di masa depan. (BC5)