Majelangu Cultural Fest Kembali Digelar, Pemuda Tuban Suguhkan Konsep Segar dan Inovatif

0
61
Majelangu Tuban
Para pemuda Tuban. (ist)

balibercerita.com –
Setelah dua tahun vakum, tradisi Majelangu di Desa Adat Tuban akhirnya kembali digelar dengan wajah baru yang lebih segar. Tahun ini, seluruh rangkaian kegiatan dikemas dalam “Majelangu Cultural Fest Caka 1948” dan untuk pertama kalinya sepenuhnya digarap oleh pemuda desa adat.

Ketua panitia, I Wayan Angga Pranatayana mengungkapkan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi energi baru dalam menghidupkan kembali tradisi yang telah lama dinanti masyarakat. Menurutnya, sentuhan kreativitas pemuda diharapkan mampu menghadirkan inovasi tanpa meninggalkan nilai sakral yang melekat pada tradisi Majelangu.

“Ini pertama kalinya Majelangu ditangani langsung oleh pemuda Tuban. Kami ingin menghadirkan konsep yang lebih fresh, namun tetap menjaga esensi budaya dan spiritualnya,” ujarnya.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Dampingi Bupati Hadiri Puncak Karya Padudusan Agung di Pura Pucak Mangu

Majelangu sendiri merupakan tradisi yang dilaksanakan sehari setelah hari raya Nyepi. Selain memiliki makna spiritual, tradisi ini juga menjadi ajang kebersamaan masyarakat. Potensi tersebut kini dikembangkan menjadi festival budaya yang tidak hanya sakral, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif warga lokal.

Mengusung tema “Paras Paros Sarpanaya”, festival tahun ini menekankan nilai kesetaraan, kebersamaan, serta musyawarah mufakat dalam kehidupan bermasyarakat. Filosofi ini diyakini menjadi fondasi kuat dalam menjaga keharmonisan krama Desa Adat Tuban.

Berbagai kegiatan menarik pun telah disiapkan untuk menyemarakkan festival. Sejumlah penampilan spesial akan hadir, termasuk dari Ary Kencana dan Nanoe Biroe. Selain itu, digelar pula lomba tapel ogoh-ogoh, fruit carving, hingga lomba fotografi yang melibatkan partisipasi masyarakat luas.

Baca Juga:   Sekaa Gong Ejo Bang Hadirkan Napak Pertiwi di PKB 2025

Tak hanya hiburan, festival ini juga menghadirkan ruang edukasi melalui talkshow bertajuk Warga Muda Peduli Sampah bersama Malu Dong Community serta diskusi mengenai eksistensi fragmentari ogoh-ogoh oleh Manubada Creative Art.

Untuk lokasi, kegiatan tetap dipusatkan di sepanjang Jalan Raya Tuban. Selama acara berlangsung, arus lalu lintas akan ditutup sementara mulai dari simpang tiga Jalan Raya Kuta–Jalan Raya Tuban hingga simpang tiga Jalan Airport Ngurah Rai–Jalan Raya Tuban. Festival ini berlangsung selama dua hari.

Baca Juga:   DPRD Badung Tekankan Negara Wajib Lindungi Hak Beribadah Warga

Hari pertama pada 18 Maret 2026, bertepatan dengan Pangerupukan, diisi dengan voting ogoh-ogoh, pawai, serta penampilan baleganjur dan fragmentari dari 14 ogoh-ogoh yang ditampilkan. Sementara itu, hari kedua pada 20 Maret 2026 atau Ngembak Geni diramaikan tradisi Med-medan, pertunjukan seni lokal, live exhibition, joged bumbung, hingga hiburan musik dari Casteria Band, Ary Kencana, Nanoe Biroe, serta DJ Yoppy.

“Harapan kami, kegiatan ini bisa berjalan lancar dan memberikan dampak positif, baik dari sisi pelestarian budaya maupun peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Angga. (BC5)