balibercerita.com –
Maraknya kasus kehilangan water meter di wilayah Kuta Selatan tidak menghentikan komitmen Perumda Air Minum Tirta Mangutama dalam menjaga pelayanan air bersih kepada masyarakat. Di tengah gangguan tersebut, perumda memastikan penggantian water meter bagi pelanggan terdampak tetap dilakukan, sembari memperkuat koordinasi pengamanan lintas sektor.
Untuk memastikan langkah penanganan berjalan efektif, Direksi Perumda Air Minum Tirta Mangutama bersama Tripika Kuta Selatan, lurah/perbekel, serta bendesa adat se-Kecamatan Kuta Selatan menggelar pertemuan koordinasi pada Jumat (23/1), di Kantor Camat Kuta Selatan. Pertemuan ini difokuskan pada perlindungan pelanggan serta upaya menjaga kelancaran distribusi air.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama, Wayan Suyasa mengatakan bahwa kejadian kehilangan water meter berdampak langsung pada masyarakat karena suplai air otomatis terhenti. Karena itu, penanganan cepat menjadi prioritas utama. “Setiap laporan yang masuk kami upayakan selesai dalam waktu satu hari. Tujuan kami satu, layanan air ke masyarakat tetap berjalan,” ujarnya didampingi Direktur Umum Made Sugita.
Sebagai langkah antisipasi, perumda tidak hanya memperketat pengawasan bersama aparat keamanan dan unsur desa adat, tetapi juga mempertimbangkan penataan ulang posisi water meter. Salah satu opsi yang dikaji adalah memindahkan water meter dari luar rumah ke dalam rumah warga, jika kondisi memungkinkan dan disepakati bersama pelanggan. “Kami akan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Yang terpenting ada tempat yang aman dan disepakati bersama masyarakat,” jelasnya.
Terkait asumsi yang berkembang di masyarakat mengenai dugaan sabotase orang dalam, Suyasa menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Water meter yang digunakan Perumda memiliki nomor register resmi sehingga tidak dapat dimanfaatkan kembali jika dicuri. Selain itu, seluruh karyawan telah dibekali pakta integritas dan pemahaman etika kerja. “Water meter itu aset perumda. Kalau dicuri, tidak bisa digunakan lagi. Jadi tidak masuk akal jika dikaitkan dengan orang dalam,” tegasnya.
Berdasarkan data Perumda, kasus kehilangan water meter mulai terjadi sejak akhir Desember 2025. Hingga 19 Januari 2026, tercatat sebanyak 77 unit water meter hilang di wilayah Kuta Selatan. Akibat kejadian tersebut, Perumda mengalami kerugian material sekitar Rp51 juta, belum termasuk potensi kehilangan air yang terbuang. Di sisi lain, masyarakat juga dirugikan karena tidak mendapatkan suplai air.
Meski demikian, Perumda memastikan seluruh water meter yang hilang tetap diganti secara bertahap dengan dilengkapi pengaman besi. Penggantian dilakukan meski tidak ada alokasi anggaran khusus, mengingat kejadian tersebut bersifat mendadak.
Terpisah, Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta menyambut baik langkah cepat yang dilakukan Perumda. Menurutnya, kejelasan penanganan sangat dibutuhkan masyarakat di tengah gangguan layanan. “Yang penting ada komitmen dan penjelasan jelas kepada masyarakat. Kami berharap pelayanan air bisa segera kembali normal dan berjalan lancar,” ujarnya.
Sumerta menambahkan, pencurian water meter secara masif merupakan kejadian force majeure. Karena itu, ia berharap koordinasi antara Perumda, aparat, dan masyarakat terus diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang dan layanan air bersih tetap terjaga. (BC5)
















