23 Tahun Tragedi Bom Bali, Doa Damai Menggema di Ground Zero Kuta

0
157
Bom Bali
Suasana peringatan tragedi Bom Bali, di Ground Zero, Kuta, Minggu (12/10). (BC5)

balibercerita.com –
Suasana penuh haru terasa di Monumen Ground Zero, Kuta, pada Minggu (12/10) sore. Ratusan orang baik dari warga lokal, wisatawan, hingga penyintas dan keluarga korban tragedi Bom Bali datang silih berganti untuk menyalakan lilin dan meletakkan bunga sebagai bentuk penghormatan bagi 202 korban jiwa yang gugur 23 tahun lalu.

Tahun ini, peringatan digelar secara sederhana namun tetap khidmat dengan tema “Doa untuk Bumi, Doa untuk Kemanusiaan.” Acara diprakarsai oleh Yayasan Isana Dewata, berkolaborasi dengan LPM Kuta dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kuta.

Baca Juga:   Pemkab Tabanan Terima DIPA 2022

Koordinator Yayasan Isana Dewata, Theolina Marpaung menjelaskan, tahun ini acara dibuat lebih singkat dibanding sebelumnya. Rangkaian kegiatan dimulai pukul 17.00 Wita dengan lantunan nyanyian perdamaian, doa lintas agama, serta peletakan bunga di tugu memorial.

“Acara tahun ini kami adakan sederhana karena keterbatasan dana. Meski begitu, semangat untuk terus mengenang dan mendoakan korban tidak pernah berkurang,” ujar Lina.

Panitia mengajukan dukungan ke BNPT dan LPSK untuk membantu pembiayaan kegiatan. Berkat kolaborasi dan dukungan berbagai pihak, acara tetap terlaksana dengan anggaran sekitar Rp20 juta.

Baca Juga:   Penghijauan dan Penataan Pantai Bingin akan Dilakukan Setelah Pembongkaran Bangunan Tuntas

Selain doa dan renungan, peringatan juga diisi dengan siaran khusus di radio lokal. Tujuannya agar masyarakat semakin memahami pentingnya perlindungan bagi korban terorisme, sesuai amanat Mahkamah Konstitusi. “Kegiatan ini bukan hanya untuk mengenang, tapi juga mengingatkan kita semua agar terus menebarkan kasih dan kedamaian di Bali,” tutur Lina.

Ketua Panitia, Wayan Sarjana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berpartisipasi. “Setiap tahun kami gelar acara ini agar dunia tahu bahwa Bali tetap damai dan menolak kekerasan dalam bentuk apapun,” ujarnya.

Baca Juga:   Bikin Onar di Legian dan Overstay, Warga Aljazair Segera Dideportasi

Sarjana juga berharap agar Ground Zero Kuta dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata perdamaian dunia atau Peace Park sebagai simbol ketenangan dan pengingat bahwa kekerasan hanya meninggalkan luka.

Doa bersama ini dihadiri oleh perwakilan Gubernur Bali, perwakilan Konsulat Australia, Jepang, dan Inggris, serta perwakilan dari BNPT, LPSK, Polda Bali, Dinas Sosial, anggota DPD RI, Arya Wedakarna, dan anggota DPRD Badung Puspa Negara. Tampak pula jajaran Kapolresta Denpasar, Kapolres Badung, Kapolsek Kuta, Danramil Kuta, serta perangkat desa adat dan LPM Kuta-Legian. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini