Uluwatu Tunjukkan Harmoni Budaya dan Konservasi dalam Perayaan Tumpek Uye

0
304
Uluwatu
Para kera berebut buah pada gebogan saat Tumpek Uye di DTW Uluwatu. (ist)

Mangupura, balibercerita.com –
Kawasan Luar Pura Uluwatu kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam melalui perayaan Tumpek Uye yang digelar Sabtu (12/7). Dua gebogan buah raksasa dan pemberian telur disajikan kepada para kera atau wanara yang ada di kawasan luar pura.

Perayaan ini tak hanya menjadi ritual bagi masyarakat Bali, tetapi juga menjadi contoh nyata integrasi antara nilai budaya dan upaya konservasi satwa, khususnya kera yang hidup di kawasan tersebut. Dengan melibatkan lebih dari 100 anak-anak pasraman Desa Adat Pecatu dan elemen masyarakat lokal, kegiatan ini bukan sekadar seremonial keagamaan, melainkan bentuk pengingat bahwa pelestarian satwa dan ekosistemnya harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, apalagi di kawasan wisata spiritual yang ramai dikunjungi seperti Uluwatu.

Baca Juga:   Ritual Nebes Tapakan di Pura Pucak Manik Petang

Manajer DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, Wayan Wijana menyebut, perayaan Tumpek Uye sebagai momentum untuk menegaskan kembali filosofi Tri Hita Karana. “Kera adalah bagian dari The Five Wonderful Bounties di Uluwatu. Kami tidak hanya menjadikan mereka ikon wisata, tapi juga memastikan mereka dirawat, diberi makan, dan dijaga kesehatannya,” jelasnya.

Setiap harinya, kera yang berjumlah sekitar 650 ekor mendapatkan makanan rutin tiga kali sehari. Pemeriksaan kesehatan, termasuk vaksinasi rabies dan pemotongan taring, dilakukan secara berkala bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. DTW Uluwatu bahkan memiliki satu ekor kera putih langka yang ditangani secara khusus.

Baca Juga:   Miliki Peta Emisi, ITDC Targetkan Pengurangan Emisi 4.000 Ton CO₂ pada 2026

Perayaan tahun ini juga menggandeng influencer lokal Ida Ayu Rajarani Cempaka (King Cempaka) untuk menyampaikan pesan pelestarian satwa dan budaya kepada khalayak yang lebih luas, terutama generasi muda yang aktif di media sosial.

Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta menekankan pentingnya inovasi dalam membangun kesadaran budaya dan lingkungan. “Kami ingin generasi muda terlibat aktif. Karena itu kami libatkan anak-anak dalam pertunjukan tari dan tabuh, serta rencanakan format perayaan yang bisa merangkul lebih banyak elemen masyarakat,” katanya.

Kolaborasi yang erat antara pengelola DTW, desa adat, desa dinas, serta komunitas motor dan mahasiswa KKN yang turut menyumbangkan buah-buahan, menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan bisa menjadi gerakan bersama. Salah satu momen menarik adalah pemberian telur kepada kera, yang selain memberi variasi gizi, juga melibatkan wisatawan secara langsung untuk berinteraksi dengan satwa secara positif.

Baca Juga:   12 Tahun Berdiri, JBT Akhirnya Punya Kantor Tetap di Bali

Ketua Yowana Desa Adat Pecatu, Putu Chandra Riantama menilai bahwa perpaduan antara seni, ritual, dan edukasi konservasi inilah yang akan menjadi kekuatan wisata Uluwatu ke depan. Sinergi antara semua komponen dan elemen desa diharapkan dapat membuat seni, adat dan tradisi di Pecatu semakin ajeg. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini