Siat Tipat Bantal, Ritual Unik Berusia Ratusan Tahun di Desa Adat Kapal 

0
5
Ritual
Bupati Badung Giri Prasta bersama krama Desa Adat Kapal mengikuti prosesi Tabuh Rah Pengangon atau Siat Tipat Bantal, Senin (10/10). (ist)

Mangupura, balibercerita.com – 

Tradisi unik Tabuh Rah Pengangon atau Siat Tipat Bantal kembali dilaksanakan Desa Adat Kapal, Kelurahan Kapal, Kecamatan Mengwi, Senin (10/10). Ritual yang digelar di Pura Desa dan Pura Puseh Kapal itu dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. 

Sebelum dimulai, warga sudah menghaturkan sesajen untuk diupacarai, setelah itu sembahyang bersama agar upacara berjalan dengan baik dan lancar. Setelah itu, ada persembahan tari Rejang dan Baris secara bersama yang dinamai Rejang Tipat dan Baris Bantal atau dalam istilah lain purusa dan pradana. Bantal merupakan simbol laki-laki (purusa) dan tipat simbol perempuan (pradana). 

Pada Siat Tipat Bantal ini, warga dibagi menjadi dua kelompok. Kemudian mereka masing-masing membawa ketupat. Ketika sudah mendapat aba-aba, mereka saling lempar ketupat dan bantal (jajanan khas Bali) antara kelompok satu dan kelompok dua yang saling berhadapan-hadapan.

Baca Juga:   Mohon Kerahayuan Jagat, BPBD Badung Gelar Persembahyangan ke Sejumlah Pura

Bendesa Adat Kapal, I Ketut Sudarsana menyampaikan, tradisi ini dilaksanakan pertama kali tahun 1339 Masehi. Tujuannya memohon ke hadapan Ida Batara yang berstana di pura se-Desa Adat Kapal agar menganugerahkan keselamatan dan kesejahteraan bagi krama desa. Upacara ini dilaksanakan setahun sekali bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat dan sampai saat ini sudah terlaksana 683 kali. 

Sudarsana menceritakan awal mula adanya tradisi ini. Menurutnya, pada waktu Bali dipimpin oleh raja Ida Sri Astasura Ratna Bumi Banten, sang raja mengutus patihnya bernama Ki Kebo Taruna atau Kebo Iwa datang memperbaiki Pura Purusada di Kapal. Pada saat kedatangannya tersebut, Kebo Iwa melihat sebagian besar rakyat Kapal bertani. 

Baca Juga:   Penjaga Niskala dan Tirta Amerta di Pura Geger Dalem Pemutih

Namun, warga Kapal kala itu sedang terserang musibah dan musim paceklik. Saat itulah, Kebo Iwa memohon kepada Ida Batara yang berstana di Pura Purusada dan kemudian ia mendapat petunjuk agar dilaksanakan upacara sebagai persembahan kepada Sang Hyang Siwa. 

Persembahan tersebut diwujudkan dengan mempertemukan purusa dan pradana disimbolkan tipat dan bantal sehingga lahirlah tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon. “Jadi pertemuan antara purusa dan pradana akan melahirkan kehidupan baru. Untuk pelaksanaan acara ini hanya melibatkan 5 banjar dari 18 banjar adat yang ada di Desa Adat Kapal. Setiap tahun akan digilir dari 18 banjar adat yang ada di Desa Adat Kapal,” jelasnya. 

Baca Juga:   Gubernur Koster dan MDA Bali Restui Kegiatan Nyomya Ogoh-ogoh

Menariknya, Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta menghadiri sekaligus bersama krama Desa Adat Kapal mengikuti tradisi tersebut. Menurutnya, tradisi ini adalah warisan para leluhur yang harus dan wajib untuk dilaksanakan tiap tahun. Dijelaskan bahwa aci adalah persembahan, tabuh artinya turun, rah itu energi dan pengangon berarti manifestasinya Dewa Siwa. 

“Purusa dan pradana inilah dipertemukan di alam semesta untuk mendapat kemakmuran baik secara pribadi, kelompok, golongan dan seluruh lapisan masyarakat. Saat pelaksanaan warisan budaya seperti saat ini yang amat disakralkan oleh masyarakat Desa Adat Kapal dan bagi kami ini sangat luar biasa sekali, pertahankan dan lestarikan,” ucap Bupati Giri Prasta. (BC13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini