Selain Wisata, Fly Bali Kerahkan Helikopter untuk Patroli Karhutla di Kalimantan Barat

0
2
Fly Bali
Tim Fly Bali usai membantu patroli udara karhutla di Kalimantan Barat, Senin (10/8). (ist)

balibercerita.com –
Operator helikopter Fly Bali kembali mengambil bagian dalam upaya penanganan bencana di Indonesia. Selain menyediakan layanan penerbangan wisata di Bali, perusahaan tersebut juga terlibat dalam mendukung program pemerintah, salah satunya patroli udara untuk memantau kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dukungan tersebut dilakukan Fly Bali melalui kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Salah satu misi yang baru saja diselesaikan yakni patroli udara untuk memantau kondisi karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Business Development Manager Fly Bali, Nita Tedja mengatakan, misi patroli bersama BNPB telah dijalankan sejak April 2026. Operasi yang berpusat di Pontianak tersebut berlangsung hingga Senin (10/8).

Selain Kalimantan Barat, Fly Bali juga masih mengoperasikan helikopter untuk misi patroli karhutla di Palangkaraya. Dalam operasi tersebut, helikopter dengan registrasi PK-FBH masih digunakan untuk melakukan pemantauan dari udara.

“Fly Bali, selain melakukan perjalanan pariwisata untuk tamu-tamu yang berada di Bali, juga sering mendukung program pemerintah yaitu program patroli untuk kebakaran hutan di beberapa area di Indonesia,” ujar Nita Tedja saat menyambut kedatangan helikopter dengan register PKFBI di Fly Bali Heliport.

Baca Juga:   Santunan Asuransi Mikro RUMAHKU BRI Tembus Rp60 Juta, Warga Jembrana Bangkit Pascakebakaran

Nita menyebutkan, keterlibatan Fly Bali dalam penanganan bencana telah dilakukan di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam setahun terakhir, perusahaan juga turut mendukung penanganan banjir di Aceh dengan mengerahkan helikopter untuk membantu mobilisasi logistik dan kebutuhan penanganan bencana di wilayah terdampak.

Sementara itu, penerbang helikopter Bell 206, Kapten Jabir Satria Prima memaparkan kondisi yang dijumpainya selama menjalankan patroli di Kalimantan Barat. Saat pertama kali bertugas di wilayah tersebut pada akhir April hingga awal Mei, titik api yang terpantau masih relatif sedikit.

Situasi kemudian berubah ketika operasi memasuki masa akhir. Jumlah titik api yang terdeteksi meningkat dan kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah juga memburuk. “Bahkan di bandara pun jarak pandang hanya sekitar 1 km. Itu membuat kota Pontianak dan sekitarnya menjadi sesak dengan polusi asap,” ujarnya.

Baca Juga:   Tanam 1.000 Kelapa Daksina di Tukad Unda, Koster Ajak Perkuat Budaya dan Ekologi Bali

Selama menjalankan misi di Kalimantan Barat, Fly Bali mencatat sekitar 200 jam penerbangan patroli. Pemantauan dilakukan dengan menjangkau berbagai wilayah, mulai dari bagian utara, timur hingga selatan Kalimantan Barat. Area patroli tersebut mencakup sejumlah wilayah, termasuk Singkawang hingga Ketapang. Pemantauan udara dilakukan untuk membantu mendeteksi dan memantau perkembangan titik kebakaran di wilayah yang menjadi sasaran operasi.

Kapten Jabir menyebut, kendala selama penerbangan relatif dapat diatasi. Namun, pada beberapa lokasi, kru harus melakukan pengaturan jadwal penerbangan dengan helikopter water bombing yang bertugas melakukan pemadaman dari udara.

“Kecuali di titik-titik yang mana paling dekat dengan kota Pontianak itu kami harus bergantian untuk mencapai satu titik karena kami harus berkoordinasi dengan helikopter water bombing yang menyiram air,” jelasnya.

Kerja sama Fly Bali bersama BNPB dalam operasi kebencanaan sebelumnya juga pernah dilakukan di Pekanbaru. Saat ini, selain operasi yang telah selesai di Pontianak, Fly Bali masih menjalankan patroli udara di Palangkaraya.

Baca Juga:   BRI Peduli Bangun Akses Jalan Beton untuk Dukung Mobilitas Petani di Desa Bebetin

Dukungan terhadap penanganan bencana juga dilakukan ketika banjir melanda Aceh. Dalam misi tersebut, helikopter dimanfaatkan untuk membantu distribusi logistik ke wilayah yang membutuhkan.

Untuk mendukung operasi kebencanaan, Fly Bali menyiapkan sekitar lima hingga enam personel sebagai bagian dari kru. Namun, jumlah orang yang berada di dalam helikopter disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik setiap misi. “Dalam operasi ini, kru yang terlibat dalam penanganan bencana total kru itu kami mencapai lima hingga enam orang. Tapi saat terbang kami hanya berdua. Satu observer untuk mengambil dokumentasi lalu satu lagi itu saya sendirian,” jelasnya.

Fly Bali memastikan komitmennya untuk terus memberikan dukungan terhadap operasi penyelamatan maupun penanganan bencana yang dilakukan bersama pemerintah. “Fly Bali pasti akan selalu tetap support misi penyelamatan dan kolaborasi dengan pemerintah, demi bangsa Indonesia ini karena kami semua di sini bersaudara satu bangsa, satu Indonesia ini,” tegasnya. (BC9)