Sabda Ratu Niang, Asal Mula Pura Geriya Tanah Kilap

0
975
Pura
Bagian utama mandala Pura Geriya Tanah Kilap. (BC13)

Denpasar, balibercerita.com – 

Pembangunan Pura Geriya Tanah Kilap diwarnai dengan berbagai macam cerita menarik. Diawali dengan kemunculan perempuan tua misterius yang dipercaya merupakan sosok Ratu Niang hingga berbagai keajaiban yang dialami perintis pura.   

Pangelingsir sekaligus Pangempon Pura Geriya Tanah Kilap, Anak Agung Aji Alit Mangku mengungkapkan, pura ini dibangun oleh almarhum ayahnya, Anak Agung Made Suardana. Anak Agung Made Suardana adalah seorang yang sejak lahir sakit-sakitan. Bahkan, sakit pada bagian lehernya sekian lama menjangkiti dan mempengaruhi gaya bicaranya. “Setiap bicara selalu menggeleng-gelengkan kepala,” ujarnya. 

Agung Made Suardana menjalani profesi sebagai kernet dan serabutan. Suatu hari, tepatnya saat menunggu penumpang, ia dihampiri sosok nenek misterius di kawasan Pasar Kuta. Tiba-tiba, nenek tersebut langsung menanyakan kondisi kesehatan Agung Made Suardana. Bahkan, perempuan renta itu secara tepat mengetahui bagian yang sakit. Kejadian ini tentu sangat mengherankan. Mengapa sosok misterius itu bisa tahu kondisi kesehatannya, padahal ia sama sekali tak mengenalnya?  

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Dampingi Bupati Hadiri Puncak Karya Padudusan Agung di Pura Pucak Mangu

Belum habis kebingungan yang melingkupi Agung Made Suardana, sosok nenek yang diyakini sebagai perwujudan Ida Batari Ratu Niang tersebut bersabda, jika menginginkan kesembuhan, Agung Made Suardana harus ngayah di griya atau kediaman Sang Batari. 

“Lalu dituntunlah almarhum oleh sosok nenek tua tersebut sampai menuju jembatan yang tepatnya sekarang ini menjadi Pura Geriya Tanah Kilap. Itu ada jembatan putus yang di seberang sungainya itu ada pohon kayu santen. Ditunjuklah, itulah rumahnya nenek, di pohon itu. Di saat almarhum menoleh ke arah pohon, lalu kembali menoleh ke arah nenek tua itu, nenek tua itu sudah tidak ada, menghilang,” ujar Agung Aji Alit Mangku. 

Kehadiran sosok Ratu Niang tak hanya sekali. Agung Made Suardana kembali bertemu dengan Ratu Niang dalam mimpi. Di mimpi itu pun Ratu Niang kembali menanyakan kesediaan Agung Made Suardana untuk ngayah. Berharap kesembuhan atas penyakit menahunnya, Agung Made Suardana pun bersedia ngayah. 

Baca Juga:   "Karya" Massal di Pecatu, Jalan Tengah Jaga Tradisi dan Kesejahteraan

Ajaib, setelah menyatakan siap ngayah, Agung Made Suardana sembuh dari penyakitnya. Hanya dengan menyatakan kesiapan untuk ngayah, tanpa pengobatan apapun, ia memperoleh kesembuhan. Namun, untuk ngayah di griya Ratu Niang ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses yang harus dilalui. 

Diceritakan, dahulu sebelum ada jembatan, kawasan sekitar Pura Geriya Tanah Kilap adalah daerah persawahan dan ditumbuhi banyak pohon besar. Ada satu pohon spesial yakni pohon kayu santen yang di bawahnya terdapat sebuah lubang. Lubang seperti gua itu sampai sekarang masih ada di Pura Geriya Tanah Kilap. 

Sebelum menata kawasan suci Pura Geriya Tanah Kilap, proses ritual Agung Made Suardana terlebih dahulu di pohon asem di dekat pabrik keramik yang lokasinya tak jauh dari Pura Candi Narmada sekarang. Setelah itu, bersembahyang di pohon sambung tulang. Sehabis itu baru menuju arah pabrik keramik untuk menunggu air surut dan mengarah selatan mengikuti alur mangrove. Di ujung alur terdapat kubangan air berukuran kecil, pohon kayu sugih, kuburan dan batu besar. “Almarhum disuruh membuat canting dari bambu agar bisa mengambil air di kubangan tersebut untuk melukat,” katanya. 

Baca Juga:   Ritual Ini Digelar Untuk Memohon Kesuksesan KTT G20

Usai prosesi tersebut, Agung Made Suardana diminta menuju ke arah batu besar untuk melakukan persembahyangan seperti umat Budha. Kawasan tersebut kini menjadi kongso. Baru kemudian ia diperbolehkan menuju ke geriya Ratu Niang yakni di pohon kayu santen.  

Seiring berjalannya waktu, kerja keras dan ketekunannya ngayah, usaha tenun yang dirintis Agung Made Suardana berkembang pesat. Ia pun menepati janji menata kawasan suci yang merupakan tempat berstananya Ratu Niang. Kala itu, kawasan tersebut belum jadi sebuah pura. Hanya ada satu yang didirikan yakni Palinggih Ida Batari Ratu Niang. Namun, berkat anugerah Ratu Niang lama kelamaan kawasan itu berubah menjadi pura. Pada tahun 1986, Parisadha Hindu Dharma mengesahkannya menjadi Pura Geriya Tanah Kilap. (BC13) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini