Ratusan Teba Modern Dibangun di Ungasan

0
3
Teba modern
Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta bersama Perbekel Ungasan, Wayan Kari saat meninjau pembuatan salah satu teba modern. (ist)

balibercerita.com –
Melalui program Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS), ratusan teba modern mulai dibangun di Desa Ungasan sebagai langkah konkret mengolah sampah langsung dari sumbernya.

Sebanyak 246 unit teba modern telah mulai dibangun dan tersebar di berbagai titik strategis, mulai dari pasar, sekolah, hingga pura. Kehadiran fasilitas ini menjadi terobosan penting dalam menekan volume sampah organik di tingkat desa, sekaligus mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap pengelolaan sampah.

Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta menyebut, Ungasan sebagai contoh praktik baik dalam pengelolaan sampah organik berbasis sumber. Menurutnya, pembangunan teba modern tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut perubahan pola pikir masyarakat.

Baca Juga:   Desa Tembok Gelar Deklarasi Rumah Moderasi

“Di Ungasan, pembangunan teba modern sudah berjalan dengan baik. Kami sudah melihat langsung prosesnya, dimulai dari fasilitas umum hingga nantinya menyasar rumah tangga,” ujarnya.

Program ini sepenuhnya didukung oleh anggaran desa dan diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap sistem pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir. Pemerintah kecamatan pun terus mendorong konsep satu rumah satu komposter aktif atau satu usaha satu komposter aktif.

Konsep yang diusung terbilang sederhana, namun berdampak besar. Sampah organik diolah menjadi kompos melalui berbagai metode, mulai dari teba modern, bak komposter, hingga tong komposter. Dengan cara ini, sampah tidak lagi menumpuk, melainkan langsung ditangani dari sumbernya.

Baca Juga:   Dramatis, Evakuasi Jenazah di Jurang Sedalam 50 Meter Libatkan Tim SAR Gabungan

Gerakan serupa juga mulai mengalir ke wilayah lain di Kuta Selatan. Di Desa Kutuh, pembangunan teba modern bahkan telah lebih dulu berjalan dan sebagian rampung sebelum hari raya Nyepi. Sementara itu, di Desa Pecatu, pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakter wilayah.

Di Kelurahan Jimbaran, penggunaan tong komposter sudah diterapkan sejak 2023. Inovasi juga berkembang di kawasan perumahan, seperti teba modern vertikal di Perum Raya Kampial serta pembangunan fasilitas serupa di kawasan Nuansa Utama Timur. “Ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari rumah dan lingkungan terkecil,” tegas Arta.

Baca Juga:   Abrasi Kembali Terjang Pantai Kuta, Pedestrian Rusak Diterjang Gelombang Pasang

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa keberadaan komposter tidak hanya berdampak pada pengurangan sampah, tetapi juga mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.

Terkait pemanfaatan hasil kompos, evaluasi akan dilakukan secara bertahap untuk memastikan hasil yang optimal dan dapat dimanfaatkan secara maksimal. “Nanti kita lihat hasilnya, lalu dilakukan evaluasi berkelanjutan. OPD teknis juga akan melakukan supervisi secara berkala,” pungkasnya. (BC5)