Raih Juara I di Kasanga Festival 2026, Ogoh-ogoh Wit Kawit Diangkat dari Sosok Gowaksa

0
152
Juara ogoh-ogoh Kasanga Festival
Ogoh-ogoh Wit Kawit hasil karya ST Taruna Dharma Castra dari Banjar Tengah, Desa Sidakarya. (BC10)

balibercerita.com –
Rangkaian lomba ogoh-ogoh dalam Kasanga Festival 2026 yang digelar di Lapangan Puputan Badung, Kota Denpasar, resmi berakhir. Pada ajang tersebut, ogoh-ogoh karya ST Taruna Dharma Castra dari Banjar Tengah, Desa Sidakarya, berhasil meraih juara pertama melalui karya berjudul Wit Kawit. Ogoh-ogoh ini diangkat dari kisah tokoh Gowaksa.

Cerita tersebut diadaptasi dari Lontar Ketaka Parwa yang berkisah tentang asal-usul kelahiran para kera yang menjadi abdi Rama serta dikaitkan dengan Kakawin Nitisastra. Dalam cerita tersebut, Gowaksa digambarkan sebagai makhluk berbentuk kera dengan wajah menyerupai burung. Sosok ini sempat menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat karena dianggap memiliki wujud yang tidak lazim.

Meski demikian, keberadaan Gowaksa justru memiliki makna penting bagi Sang Rama, karena tokoh ini termasuk dalam golongan palawaga yang membantu Rama dalam menaklukkan Alengka. Secara mitologis, kisah Gowaksa berkaitan dengan kutukan Dewa Siwa yang menyebabkan para dewa harus memiliki keturunan berwujud kera sebagai konsekuensi dari kelahiran Hanoman.

Baca Juga:   KKN UHN IGB Sugriwa, Gelar Pelatihan Membuat dan Memasang Sanggul Bali

Cerita ini bermula dari air yang semula dimaksudkan sebagai amerta atau sumber kehidupan. Namun, situasi berubah ketika Cupu Manik masuk ke dalam air yang diperebutkan oleh Arya Bang, Arya Kuning, dan Dewi Anjani. Peristiwa tersebut menyebabkan Arya Bang dan Arya Kuning berubah menjadi makhluk berwujud kera.

Dalam kisah tersebut, Dewi Anjani juga mengalami perubahan fisik berupa tangannya yang ditumbuhi bulu. Selanjutnya, penyatuan air kehidupan dalam diri Anjani yang secara simbolis melambangkan sel ovarium dengan air kehidupan pada Kesari yang merepresentasikan sel sperma melahirkan tokoh Hanoman.

Baca Juga:   Ayo Menulis Esai Demi Menjaga Warisan Peradaban Hindu Nusantara 

Judul Wit Kawit sendiri memiliki makna sebagai awal mula suatu keturunan atau kelahiran. Peristiwa itulah yang kemudian membuat Dewa Siwa menurunkan kutukan kepada para dewa hingga akhirnya melahirkan tokoh Gowaksa dalam kisah tersebut.

Karya tersebut berhasil mengungguli ogoh-ogoh milik ST Sukarela dari Banjar Kepisah, Desa Pedungan, yang menempati posisi kedua. Sementara, posisi ketiga diraih oleh ST Swadharmita dari Banjar Ceramcam, Kesiman.

Selain tiga besar, panitia juga menetapkan sejumlah juara harapan. Juara harapan I diraih oleh ST Satya Dharma dari Banjar Pekandelan, Desa Sanur Kaja. Kemudian juara harapan II diraih ST Swastika dari Banjar Pekambingan, Kelurahan Dauh Puri, dan juara harapan III diraih ST Mekar Sari dari Banjar Kesambi, Desa Kesiman Kertelangu. Adapun kategori juara favorit diraih oleh ST Cantika dari Banjar Sedana Mertha, Ubung.

Baca Juga:   Ini, Ritual Pembersihan Pascakasus Gantung Diri di Jembatan Tukad Bangkung

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Raka Purwantara menjelaskan bahwa para pemenang akan menerima hadiah tambahan di luar uang pembinaan yang sebelumnya telah diberikan kepada seluruh peserta yang berhasil masuk 16 besar. “Untuk juara I mendapat hadiah Rp50 juta, juara II Rp40 juta, dan juara III Rp30 juta,” kata Raka Purwantara, Senin (9/3).

Ia menambahkan, panitia juga menyiapkan hadiah bagi para juara harapan serta kategori tambahan lainnya. “Juara harapan I Rp20 juta, harapan II Rp15 juta, dan harapan III Rp10 juta,” ujarnya.

Sementara itu, penghargaan untuk kategori juara tambahan juga disiapkan dengan nilai hadiah sebesar Rp 10 juta. (BC9)