Upacara Ngerehang di Desa Adat Legian Dilaksanakan Atas Dasar Pawisik Sesuhunan

0
280
Legian
Penyarikan Desa Adat Legian Wayan Sunadi, Bendesa Adat Legian Anak Agung Made Mantra, Lurah Legian Putu Eka Martini, dan Ketua LPM Kelurahan Legian, I Wayan Puspa Negara. (ist)

Mangupura, balibercerita.com –

Jalan Legian, Patih Jelantik, Sriwijaya dan sebagian Jalan Mataram, merupakan ruas jalan yang akan ditutup pada Kamis (3/2) malam. Penutupan sementara akan berlangsung pada pukul 20.00 Wita sampai dengan pukul 02.00 Wita. Hal itu dilakukan berkaitan dengan pelaksanaan upacara mesuci atau ngerehang pelawatan Rangda Tiga dan Ida Ratu Ayu Desa Adat Legian, yang dipusatkan di Setra Desa Adat Legian.

Bendesa Adat Legian Anak Agung Made Mantra mengatakan, rangkaian prosesi sebenarnya telah mulai dilaksanakan. Sedangkan puncak upacara mesuci/ngerehang akan dilaksanakan Kamis. Upacara itu dilaksanakan berdasarkan keputusan paruman atas adanya pawisik (petunjuk niskala) atau wacana dari Ida Sesuhunan. 

Baca Juga:   Pemkab Badung Ngaturang Bhakti Penganyar di Pura Ulun Danu Batur 

“Ngerehang atau mesuci laksana di tengahing setra itu umumnya dilakukan kaitan dengan adanya pelawatan baru atau setelah dilakukan perbaikan fisik. Namun kali ini yang akan kami lakukan berkaitan dengan wacana dari sesuhunan saat melaksanakan pujawali di Pura Desa. Ketika itu ada wahyu turun ke salah satu penyungsung. Jadi pendek kata, Beliau minta untuk dilaksanakan upacara ini,” paparnya.

Ketua LPM Legian Wayan Puspa Negara berharap kepada para pengguna jalan untuk bisa menyesuaikan diri, yaitu dengan mencari akses-akses jalan alternatif. Sejumlah jalan itu akan ditutup pada pukul 20.00 Wita sampai dengan pukul 02.00 Wita. Nantinya juga akan dilakukan pemadaman lampu, baik lampu penerangan jalan ataupun lampu-lampu milik masyarakat. Sejumlah usaha-usaha di Jalan Dewi Sri yang tidak jauh dari lokasi, juga diminta untuk tidak menyalakan musik. Sehingga prosesi dapat berjalan dengan hikmat, dan tercipta suasana hening. 

Baca Juga:   Tradisi Unik Desa Adat Pangi, Ida Sesuhunan Macecingak Saat Digelar Nangluk Merana

“Kami berharap juga kegiatan ini bisa menjadi sebuah momentum penting dalam upaya bangkit dari pandemi Covid-19, atas keyakinan bahwa kita semua benar-benar dalam kondisi sehat lahir dan bathin,” ujarnya.

Lurah Legian Putu Eka Martini mengaku sudah melakukan koordinasi dan bersurat kepada seluruh stakeholder terkait, mulai dari Dinas Perhubungan Badung, kepolisian, Humas Pemkab Badung, pelaku usaha, hingga dua desa adat yakni Seminyak dan Kuta.

Baca Juga:   Penjor Festival 2025 di GWK Berakhir Meriah, Wujudkan Semangat Pelestarian Budaya Bali

Mengingat saat ini masih dalam situasi pandemi, pelaksanaan upacara akan tetap mengedepankan prokes. Saat puncak upacara, kawasan Setra Desa Adat Legian akan tetap disterilkan dan dibatasi. Ia juga mengaku berkolaborasi dengan Rumah Sakit Murni Teguh Hospital untuk pengecekan suhu, dan lain sebagainya terkait kesehatan. “Peserta yang terlibat wajib dicek kesehatannya dan diberi vitamin agar mereka dipastikan sehat,” tegasnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini