balibercerita.com –
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melaksanakan gerakan penghijauan di Kota Denpasar sebagai langkah pemulihan ekosistem pascabanjir sekaligus strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan respon konkret memperkuat ketahanan lingkungan.
“Pohon yang ditanam akan memperkuat struktur tanah, mengurangi limpasan air hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi, serta menjaga kualitas udara,” ujarnya, Jumat (26/9).
Banjir yang melanda Bali beberapa waktu lalu disebut menjadi pengingat penting bahwa ekosistem masih rentan akibat perubahan iklim, deforestasi, dan tata ruang yang belum optimal. Karena itu, penghijauan dinilai sebagai langkah strategis memulihkan fungsi lingkungan sekaligus mencegah potensi bencana serupa di masa depan.
Gerakan penghijauan dilaksanakan di Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Kota Denpasar, kawasan konservasi dan edukasi lingkungan yang dikembangkan sejak Mei 2023 oleh Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Bali Nusra KLH/BPLH. Kawasan seluas 6,664 hektare di Pura Dalem Mutering Jagat, Desa Adat Kesiman, Denpasar Timur ini ditetapkan sebagai taman sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2012.
Sebanyak 500 pohon produktif dan bernilai ekologis ditanam, di antaranya mangga, majegau, rejasa, nagasari, nangka, dan cempaka. Jenis pohon dipilih dengan mempertimbangkan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi jangka panjang bagi masyarakat sekitar.
Hanif juga mengajak generasi muda untuk aktif dalam menjaga lingkungan melalui gerakan penghijauan. “Saya berharap kegiatan ini menjadi titik awal. Jangan berhenti di sini. Teruslah menanam, teruslah menanam, dan teruslah menanam,” pesannya.
Partisipasi publik disebut sebagai kunci keberhasilan pemulihan lingkungan. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar keberlanjutan ekosistem kota dapat terjamin. “Penghijauan ini adalah simbol harapan. Harapan bagi masa depan lingkungan yang lebih baik, sekaligus warisan ekologis yang akan dinikmati generasi mendatang,” tutup Hanif. (BC5)



















