Gianyar, balibercerita.com –
Budaya pertanian organik yang terus dijaga oleh Kelompok Petani Mandiri Kedisan, Tegallalang, mendapat apresiasi dari The Nusa Dua. Di tengah tantangan zaman modern yang cenderung instan dan cepat, konsistensi mereka dalam menerapkan sistem pertanian berkelanjutan menjadi sorotan positif dari berbagai pihak.
General Manager The Nusa Dua, Made Agus Dwiatmika mengungkapkan, dukungan lintas sektor sangat penting agar kelompok tani seperti di Kedisan terus eksis. “Apa yang mereka lakukan sangat relevan dengan tren saat ini. Ini mendukung pariwisata secara umum, terutama karena wisata berbasis pertanian organik semakin diminati wisatawan,” ujarnya.
Lebih lanjut, The Nusa Dua melalui pengelola kawasan ITDC juga tengah fokus mendukung tiga desa penyangga di sekitarnya. Namun, pihaknya juga memiliki program pendampingan di luar wilayah tersebut, seperti yang dilakukan di Desa Wisata Pinge.
“Sekarang adalah waktu yang tepat. Ini bentuk perhatian kami terhadap pertanian organik. Bukan untuk menjadikannya destinasi wisata langsung, tapi sebagai bentuk support keberlanjutan,” tambahnya.
Salah satu daya tarik pertanian organik di Kedisan adalah sistem pertanian yang alami dan edukatif, seperti penggunaan burung hantu untuk pengendalian hama tikus. “Atraksi seperti ini sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi yang benar-benar menekankan aspek organik belum banyak. Ini harus disebarluaskan agar masyarakat tahu bahwa pertanian organik juga bisa produktif,” ujarnya.
Dukungan tidak hanya promosi, tapi juga dorongan agar pemerintah hadir melalui regulasi yang mendukung. “Tanpa regulasi yang kuat, mereka akan berjuang sendiri. Bukan hanya soal subsidi, tapi aturan yang jelas. Sama seperti pengelolaan kawasan pariwisata di Nusa Dua,” tegas Dwiatmika.
Dalam jangka pendek, The Nusa Dua berharap dapat membantu petani memasarkan produk mereka ke lingkungan hotel dan restoran di kawasan ITDC. Menurutnya, jika produk dari petani Kedisan memenuhi standar kualitas, maka tidak menutup kemungkinan akan dipakai oleh industri perhotelan.
“Kita akan mulai dari mengenalkan. Karena hotel dan restoran punya standar tersendiri. Kalau produknya bagus secara fisik, seharusnya bisa diterima. Tantangannya adalah konsistensi produksi. Itu yang perlu kita bantu ke depan,” pungkasnya. (BC5)



















