Perundungan Antara Dokter Senior dan Junior pada PPDS Harus Dicegah

0
4
Dokter
Deklarasi gerakan anti bullying oleh PABOI. (ist)

Mangupura, balibercerita.com – 

Perundungan (bullying) antara dokter senior dan junior masih kerap terjadi pada peserta pendidikan kedokteran spesialis (PPDS). Bentuk perundungan bermacam-macam, namun semuanya bermuara untuk kepentingan pribadi oknum dokter spesialis. 

Kondisi itu tentu dapat menyebabkan kerugian, baik secara material, mental dan fisik PPDS. Namun terkadang perundungan dikemas dengan modus pembentukan karakter dokter-dokter muda sehingga sulit dideteksi.

Berkaca dari fenomena tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) melakukan MoU anti-bullying dengan para akademisi dari berbagai universitas yang ada di Indonesia. Tujuannya, meminimalisir aksi perundungan yang terjadi kepada para dokter yang masih melanjutkan studinya. 

Ketua Panitia COE71 PABOI Dr. dr I Gusti Lanang Ngurah Agung Artha Wiguna, Sp.OT (K) menerangkan, MoU ini bertujuan untuk memperkuat bahwa pendidikan ortopedi di Indonesia adalah pendidikan bermartabat yang bersifat saling menghargai dan sangat tidak setuju dengan adanya penekanan-penekanan yang sifatnya bullying. Komitmen ini penting ketika seseorang menjadi dokter spesialis ortopedi harus menanamkan kepada adik-adiknya bahwa dalam proses pendidikan profesi harus saling menghargai dan saling menghormati. Tidak hanya antardokter, tetapi pada seluruh profesi dan terutama kepada pasien.

Baca Juga:   Jalan Tol Bali Mandara Kini Gunakan PLTS

Bullying merupakan sesuatu yang sangat memungkinkan terjadi dalam proses pendidikan. Sebab, proses pendidikan merupakan hal yang sangat dinamis. Karena itu, dibuat Mou anti-bullying sebagai penegasan untuk mencegah hal itu tidak sampai terjadi. MoU ini akan diterapkan di seluruh center pendidikan dokter spesialis ortopedi di Indonesia untuk menjaga martabat pendidikannya dan profesional dalam proses pendidikannya.

Pengawasan penerapan MoU anti-bullying akan dilakukan oleh kolegium, yaitu badan organisasi profesi yang merupakan stakeholder utama pendidikan. Kepala program studi (prodi) dan sekretaris prodi pada setiap prodi nantinya akan ikut menjaga hal ini agar benar-benar terlaksanakan. “Itu harus betul-betul bisa dilaksanakan di semua program studi,” tegasnya.

Ketua PABOI/IOA Prof. Dr. dr. Ismail HD, Sp.OT (K) menekankan pentingnya rasa saling menghargai dan menghormati dalam proses pendidikan. Bukan hanya untuk pendidikan dokter, tapi pada seluruh profesi yang ada. 

Baca Juga:   BRI Genap Berusia 128 Tahun

Ia tidak memungkiri bahwa aksi perundungan pasti ada, tapi hal ini harus bisa diminimalisir. “Sangat tidak setuju dengan adanya penekanan yang sifatnya bullying. Kami anti-bullying di pendidikan residen ortopedi. Kami harus menegaskan itu,” sebutnya.

Ketua Kolegium PABOI, Prof. Dr. dr. Dwikora Novembri, Sp.OT (K) menerangkan, perilaku perundungan senior kepada junior dalam pendidikan dokter spesialis menandakan bahwa oknum tersebut kurang strugle dan cenderung berpikir instans dalam mendapatkan sesuatu. Seperti senior menyuruh junior membelikan makan dan membayari makan, meminjam mobil langsung dengan membelikan bensin, atau menyewa lapangan dengan langsung menyiapkan kebutuhan dan lain sebagainya. “Biasanya itu terjadi terkait nonakademik. Tidak terkait tugas dan tanggung jawab profesi,” ungkapnya.

Pihaknya mengaku sudah membuat sistem dengan sebaik-baiknya dalam mencegah itu. Diantaranya, dalam penerimaan PPDS ortopedi menggunakan tes MMPI, yaitu tes komprehensif untuk mendapatkan calon residen yang pintar dan baik. Bukan hanya dari sisi knowledge, tapi juga psikologi, kekuatan mental. Hal ini untuk menentukan kelayakan PPDS dalam bidang ortopedi agar tidak berkepribadian imatur.

Baca Juga:   UMKM Bali Berkesempatan Pameran Gratis di Mangga Dua Square 

Untuk seorang PPDS yang berkepribadian imatur, ketika ia mendapatkan tugas yang berat mereka akan cenderung menggangapnya sebagai suatu bullying, padahal hal itu berbeda. Tugas dan tanggung jawab merupakan suatu pembentukan karakter agar mereka memiliki tanggung jawab sebagai seorang dokter. 

“Contoh, ketika seorang dokter harus berjaga 24 jam di RS, itu bukan bullying. Itu pelaksanaan tugas dan pembentukan karakter, bahwa dia mempunyai tanggungjawab sebagai seorang dokter. Seorang dokter PPDS harus menjaga kondisi badannya agar tetap fit dan bisa melayani pasien dengan baik,” paparnya.

Bullying terjadi biasanya tidak terkait tugas. Ketika itu menyangkut tugas dan tim work, hal itu bukanlah bullying. Sebab, seorang dokter tidak bisa bekerja sendiri, namun saling mendukung. Dalam pendidikan dokter spesialis ortopedi, selama ini aksi bullying diakuinya belum pernah terjadi. Sebab, mereka menerapkan filosofi bahwa senior yang mengayomi junior. Senior dianggap yang paling mapan dibandingkan junior, apalagi jika junior masih dalam proses pendidikan. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini