Perayaan Tumpek Uye di DTW Uluwatu, Momen Pesta Buah Para Monyet Berbalut Budaya

0
133
Pura Uluwatu Tumpek Uye
Para monyet saat berpesta buah. (BC5)

balibercerita.com –
Pada Sabtu Sore (7/2), suasana kawasan Luar Pura Uluwatu terasa berbeda. Di bawah cahaya matahari yang mulai condong ke barat, ratusan monyet berkerumun, meloncat lincah, dan berebut dua gebogan buah raksasa yang tersaji di pelataran kawasan. Aroma buah segar berpadu dengan iringan budaya Bali, menciptakan sebuah pengalaman unik yang mengundang decak kagum wisatawan.

Momen tersebut merupakan rangkaian seremonial Tumpek Kandang atau Tumpek Uye, upacara keagamaan yang rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali oleh manajemen pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Kawasan Luar Pura Uluwatu. Bukan sekadar ritual, perayaan ini menjadi wujud nyata penghormatan terhadap satwa sekaligus implementasi ajaran Tri Hita Karana, harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Balutan budaya semakin memperkuat suasana sakral sekaligus atraktif. Tari pendet dan sekar jepun ditampilkan di tengah kawasan, menyatu dengan perilaku alami para monyet yang bebas bergerak di sekeliling area.

Wisatawan pun larut dalam pengalaman tersebut, mengabadikan momen, sekaligus merasakan kedekatan yang jarang ditemui di destinasi wisata lain. Menariknya, selebgram Putu Puspa turut hadir dan berinteraksi langsung dengan monyet-monyet Uluwatu. Ia tampak tenang saat beberapa monyet melompat dan memanjat tubuhnya untuk mengambil buah. Interaksi ini menjadi gambaran bagaimana keharmonisan antara manusia dan satwa dapat terjalin dengan pengelolaan yang tepat.

Baca Juga:   ITDC Jadikan Pantai Nusa Dua sebagai Habitat Alami Penyu

Manajer Pengelola DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, I Wayan Wijana menjelaskan bahwa upacara Tumpek Kandang dipersembahkan khusus kepada satwa, terutama monyet yang mendominasi kawasan Uluwatu. Pelaksanaannya terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, termasuk penambahan dan kualitas gebogan yang disajikan.

“Tumpek Kandang atau Tumpek Uye ini kami laksanakan setiap enam bulan sekali dan terus kami benahi. Selain sebagai bentuk rasa syukur, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi UMKM dan para distributor lokal yang selama ini mendukung operasional DTW Uluwatu,” ujarnya.

Keberadaan monyet di Kawasan Luar Pura Uluwatu diakui menjadi daya tarik utama destinasi ini. Interaksi alami antara monyet dan pengunjung memberikan pengalaman berbeda yang memperkuat citra Uluwatu sebagai destinasi wisata berbasis alam dan budaya. Oleh karena itu, monyet diperlakukan sebagai aset daya dukung pariwisata yang dijaga dan dilestarikan.

“Upacara ini juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas anugerah yang diberikan, sekaligus menjaga keharmonisan dengan lingkungan sekitar, khususnya para satwa. Inilah implementasi Tri Hita Karana yang kami terapkan,” tambah Wijana.

Baca Juga:   Parade Budaya Warnai Upacara HUT RI di Nusa Dua, Sekaligus Road to Nusa Dua Festival

Saat ini, populasi monyet di kawasan Luar Pura Uluwatu tercatat sekitar 650 ekor. Jumlah tersebut dikelola secara terkontrol melalui pengaturan populasi, perawatan kesehatan, serta sanitasi lingkungan yang berkelanjutan. Selain monyet, DTW Uluwatu juga memiliki penangkaran kijang dan rusa yang turut menjadi daya tarik kawasan.

“Persembahan ini bukan hanya untuk monyet, tetapi untuk seluruh satwa di DTW Uluwatu. Hanya saja, karena monyet paling dominan, maka mereka yang paling terlihat dalam upacara ini,” jelasnya.

Meski Tumpek Kandang hanya digelar enam bulan sekali, perhatian terhadap satwa dilakukan setiap hari. Pengelola memberikan pakan rutin pada pagi, siang, dan sore hari dengan nutrisi terukur, berdasarkan analisis dan rekomendasi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud). Bahkan, pos anggaran terbesar DTW Uluwatu dialokasikan untuk makanan monyet, dengan nilai mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan. “Kami tidak main-main soal pakan. Yang terpenting satwa tetap sehat, aman, dan mampu memberikan kenyamanan serta daya dukung bagi DTW Uluwatu,” tegas Wijana.

Selain pakan, pemeriksaan kesehatan monyet dilakukan secara rutin setiap tiga hingga enam bulan. Seluruh monyet di kawasan ini juga telah memiliki sertifikat bebas rabies, sehingga keamanan dan kenyamanan pengunjung tetap terjaga.

Baca Juga:   Kemenangan Dramatis Marco Bezzecchi Warnai Sprint Race MotoGP Mandalika 2025

Asisten Manager Operasional dan Personalia DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, I Made Murah menambahkan bahwa Tumpek Kandang merupakan wujud rasa syukur yang dipanjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, khususnya Ida Batara yang berstana di Pura Uluwatu. “Upacara dilakukan dengan prosesi pemberian gebogan buah kepada satwa, sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur. Setiap enam bulan sekali kami melaksanakan kegiatan ini dengan melibatkan seluruh staf,” ungkapnya.

Ia menambahkan, selain monyet, satwa kijang dan menjangan yang ditangkarkan juga mendapatkan persembahan buah, meski tidak dalam bentuk gebogan. Antusiasme staf manajemen yang terlibat langsung membuat seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan penuh makna.

Dengan Tumpek Kandang yang telah masuk kalender event Kabupaten Badung, DTW Uluwatu berharap dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten Badung dan Pemerintah Provinsi Bali agar tradisi ini terus lestari dan memberikan pengalaman berkesan bagi wisatawan, sekaligus menjaga keseimbangan alam dan budaya Bali. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini