Negara, balibercerita.com –
Berawal dari problematika sampah yang cukup tinggi volumenya saat pelaksanaan upacara pujawali (piodalan), utamanya di Pura Kahyangan Jagat serta pengolahan sampah upakara yang belum maksimal, bank sampah digital Sangkara terus bergerak melakukan edukasi kepada para pamedek (umat) untuk bersama-sama menjaga kebersihan pura. Gerakan mereka lebih kepada mengubah mindset tentang orientasi sampah yang selama ini menjadi masalah, menjadi hal yang memiliki manfaat ekonomi.
Made Andy Kurnia Prayoga selaku Founder Sangkara menerangkan, pihaknya mencoba hadir untuk memberikan solusi terhadap permasalahan sampah upakara piodalan di pura. Ia bersama sejumlah rekannya melahirkan start-up asli Bali yang diberi nama Sangkara, sebagai layanan waste management berfokus pada event upacara yadnya di Pura Kahyangan Jagat.
“Start-up ini kami inisiasi berempat selaku founder. Ini kita bangun di akhir bulan Desember 2021 pada ajang Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Kominfo,” ujarnya, Senin (14/2).
Awal tahun 2022 menjadi project pertama dari start-up ini tepatnya saat pelaksanaan Usaba Pura Dalem Puri, Besakih, pada tanggal 2-8 Januari 2022. Saat itu pihaknya berhasil mengumpulkan 9,4 ton sampah saat upacara, dengan 99 orang user yang terdaftar dalam kegiatan tersebut. Sampah berupa organik yaitu sisa perlengkapan sembahyang, sisa makanan, kelapa, dan lain-lain, serta sampah anorganik yaitu botol plastik, gelas plastik dan sebagainya.
Project kedua kembali dilaksanakan pada bulan Februari 2022 saat pujawali di Pura Rambut Siwi pada tanggal 9-13 Februari 2022. Saat itu pihaknya berhasil mengumpulkan sampah total sebanyak 2,2 ton, dengan user 27 orang yang teregistrasi. “Untuk agenda selanjutnya, kami akan hadir saat pelaksanaan upacara Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih. Untuk waktunya, kami masih proses koordinasi dengan tim,” ungkapnya.
Sangkara dalam mengatasi permasalahan sampah sangat simple. Sangkara mengajak seluruh masyarakat yang datang saat dilaksanakannya upacara di Pura Kahyangan Jagat, untuk mengambil sampahnya masing-masing, baik berupa sampah organik dan sampah anorganik, dan tidak membuangnya di pura. Pamedek kemudian bisa datang ke stand Sangkara yang berdiri di sekitar areal pura untuk menyetorkan sampah yang dikumpulkan tersebut.
Pihaknya akan menimbang sampah dari pamedek sesuai kategorinya dan mengkonversinya menjadi saldo rupiah. “Saldo rupiah yang terkumpul bisa di cek oleh masyarakat pamedek di website www.sangkara.id melalui ID card masing-masing dan bisa diklaim jika sudah mencapai nominal Rp 50.000,” bebernya.
Proses dari awal memungut sampah pribadi sampai mengkonversinya menjadi saldo rupiah itu akan terus berulang-ulang dan berlaku di semua Pura Kahyangan Jagat yang bekerja sama dengan Sangkara. Sebab, project tersebut akan terus berlanjut, karena pihaknya berharap Sangkara bisa hadir di seluruh event upacara yadnya di semua Pura Kahyangan Jagat yang ada di Bali.
Dalam pelaksanaan project di Pura Kahyangan Jagat itu, pihaknya menggandeng beberapa pihak, khususnya yang memiliki visi dan misi di bidang pengelolaan sampah, yang memiliki wilayah kerja dekat dengan Pura Kahyangan Jagat yang akan dituju. Di Kabupaten Karangasem, Sangkara bermitra dengan UPS Basuki Lestari Besakih dan di Kabupaten Jembrana, Sangkara bermitra dengan Bank Sampah Pancor Yehembang. Peluang kerja sama sebagai mitra itu akan terus terbuka lebar kepada semua pihak, untuk menjawab tantangan dunia pengelolaan sampah.
Dipaparkannya, ada 2 manfaat utama yang ditonjolkan dari Sangkara. Pertama, adalah edukasi kebiasaan masyarakat pemedek untuk ikut menjaga kebersihan pura saat upacara yadnya. Hal itu merupakan bentuk implementasi ajaran Tri Hita Karana. Kedua, edukasi bahwa setiap sampah mempunyai nilai ekonomis dan manfaat tersebut bisa dirasakan dengan nyata, jika mereka mau berkesinambungan untuk melaksanakannya. (BC5)














