Desa Adat Pecatu Juga Tiadakan Pawai Ogoh-ogoh

0
286
Parum bahas ogoh-ogoh
Parum bersama di Desa Adat Pecatu yang dilaksanakan Sabtu (22/1). (ist)

Mangupura, balibercerita.com –

Desa Adat Pecatu juga ikut memilih untuk tidak membuat dan mengarak ogoh-ogoh pada malam Pangerupukan menyambut hari raya Nyepi 1944 Saka. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi potensi adanya kerumunan, sekaligus mengantisipasi merebaknya Covid-19 varian Omicron. 

Sementara, upacara pecaruan tawur agung tetap dilaksanakan, namun dengan pembatasan. Yaitu dihadiri oleh perwakilan, dan didukung perwakilan para yowana masing-masing 5 orang. 

Baca Juga:   PMI Salurkan Bantuan untuk Penyandang Disabilitas Terdampak Banjir Bali

Menurut Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta, kesepakatan tersebut diambil setelah dilaksanakannya parum (rapat) antara prajuru desa, saba desa, kerta desa, kelian tempek dan yowana desa maupun masing-masing banjar. Hal itu dilakukan atas 3 dasar pertimbangan, yaitu untuk menghindari terjadinya kerumunan saat malam Pangerupukan, kemudian kondisi ekonomi yang sedang lesu, serta limpahan penonton karena kondisi desa tetangga juga tidak melaksanakan hal serupa. “Jika di Pecatu digelar, tentu warga desa tetangga akan berkumpul menonton ke Pecatu,” ungkapnya.

Baca Juga:   Varian Omicron Terdeteksi di Indonesia, Presiden Minta Perketat Prokes

Apabila di Desa Adat Pecatu menggelar pengarakan ogoh-ogoh, tentunya warga luar desa akan datang untuk menonton hal itu. Terlebih kegiatan itu sudah beberapa kali tidak diadakan, sehingga hal itu akan menyedot perhatian. Dengan demikian, tentu berpotensi akan mengakibatkan kerumunan dan menyulitkan dalam pengaturan protokol kesehatan. (BC5)

Baca Juga:   Penilaian Ogoh-ogoh di Badung Dimulai 18 Februari, Kriteria Ini Bisa Jadi Penentu Menang!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini