balibercerita.com –
Upaya pencegahan bunuh diri di Bali dinilai perlu diperluas dengan menyentuh persoalan psikologis, tekanan sosial, dan faktor budaya yang dihadapi masyarakat. Langkah pengamanan fisik di lokasi rawan dinilai penting, tetapi belum cukup untuk menjawab persoalan yang lebih mendasar.
Profesor Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ mengungkapkan, hasil penelitian terakhir menunjukkan angka bunuh diri di Bali masih meningkat meskipun berbagai upaya pencegahan telah dilakukan pemerintah. Menurutnya, pendekatan pencegahan selama ini masih cenderung terlihat pada aspek infrastruktur, seperti pemasangan pengaman di jembatan yang kerap menjadi lokasi percobaan bunuh diri. Padahal, persoalan yang dihadapi individu dalam situasi krisis juga membutuhkan perhatian dan penanganan secara menyeluruh.
“Dari penelitian terakhir di Bali memang menunjukkan angka bunuh diri masih terus meningkat, meskipun upaya sudah dilakukan oleh pemerintah. Tetapi yang kami lihat memang belum menyasar aspek manusianya sendiri. Aspek manusia dan budaya belum diperhatikan,” ujarnya dalam agenda 6th International Zero Suicide Summit 2026 di The Apurva Kempinski, Nusa Dua, Selasa (13/10).
Cokorda Bagus Jaya Lesmana menjelaskan, tekanan ekonomi dan situasi global yang semakin tidak menentu berpotensi menambah beban psikologis masyarakat. Ketika berbagai persoalan menumpuk, seseorang dapat mengalami krisis dan merasa tidak memiliki jalan keluar.
Dalam kondisi tersebut, kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan secara rasional bisa terganggu, terutama ketika tidak memiliki dukungan yang memadai dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Karena itu, pencegahan perlu diarahkan pada pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi individu, termasuk faktor sosial dan budaya yang memengaruhi cara mereka menghadapi tekanan.
“Kami merasa sekarang ini dengan kondisi ekonomi yang semakin memperberat, kondisi global yang menjadi tekanan buat masyarakat, tentu ini menjadi sebuah pressure tersendiri bagi masyarakat Bali untuk bisa tidak sampai memilih jalan bunuh diri itu,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Pambudi, MPHM mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan kepolisian pada tahun sebelumnya, Bali tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus bunuh diri tertinggi di Indonesia..Namun, data terbaru belum dapat dirinci berdasarkan daerah. Oleh sebab itu, perbandingan angka maupun peringkat antardaerah perlu mengacu pada data yang jelas, termasuk tahun pencatatan dan sumber pelaporannya.
Imran menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian, mengingat Bali selama ini dikenal memiliki kesejahteraan yang relatif baik serta kehidupan sosial dan keagamaan yang kuat. Kondisi itu, bagaimanapun, tidak serta-merta meniadakan persoalan kesehatan jiwa di masyarakat.
Ia mencontohkan Yogyakarta yang dikenal memiliki indeks kebahagiaan tinggi, tetapi juga menghadapi persoalan depresi dan kecemasan berdasarkan sejumlah hasil survei dan laporan kesehatan. Hal ini menunjukkan perlunya penelitian lebih mendalam untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan jiwa masyarakat. “Di satu sisi kita melihat lingkungannya bagus, tetapi hasilnya justru menunjukkan persoalan kesehatan jiwa. Ini menarik dan perlu diteliti untuk melihat faktor-faktor determinannya,” kata Imran.
Menurutnya, penelitian perlu dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang berkontribusi terhadap risiko bunuh diri, termasuk efektivitas dukungan sosial. Keluarga dan lingkungan sekitar perlu memiliki kemampuan mengenali tanda-tanda krisis, memberikan pendampingan, serta membantu menghubungkan individu dengan layanan pertolongan yang tepat.
Selain penanganan psikologis dan penguatan dukungan sosial, pembatasan akses terhadap sarana yang berpotensi digunakan untuk bunuh diri juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Imran mencontohkan, sebuah jembatan di Kupang yang sebelumnya kerap menjadi lokasi percobaan bunuh diri dengan cara melompat. Pemerintah setempat kemudian memasang penghalang untuk membatasi akses ke bagian jembatan yang berisiko.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengamanan lingkungan tetap diperlukan. Namun, upaya itu harus berjalan beriringan dengan dukungan psikologis, pendampingan, dan kemudahan memperoleh layanan pertolongan.
“Pencegahan bunuh diri bukan hanya menjadi urusan sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai sektor lain. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga sangat penting. Persoalan ini kompleks, sehingga perlu ditangani secara bersama-sama,” tegasnya.
Dengan demikian, penguatan pencegahan bunuh diri di Bali membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari pengamanan lingkungan hingga penanganan persoalan psikologis, sosial, dan budaya. Keterlibatan keluarga, masyarakat, pemerintah, serta sektor terkait menjadi bagian penting untuk memastikan orang yang menghadapi krisis memperoleh dukungan dan pertolongan yang dibutuhkan. (BC5)


















