Beranda Kesehatan Panggilan Healing119 Tembus 600 Sehari, Kemenkes Soroti Kebutuhan Layanan Kesehatan Jiwa

Panggilan Healing119 Tembus 600 Sehari, Kemenkes Soroti Kebutuhan Layanan Kesehatan Jiwa

0
Kesehatan jiwa
Pemaparan acara 6th International Zero Suicide Summit 2026 di The Apurva Kempinski. (ist)

balibercerita.com –
Layanan krisis kesehatan jiwa Healing119 ekstensi 9 menerima hingga 600 panggilan per hari sejak Februari–Maret 2026. Tingginya jumlah panggilan tersebut menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di tengah upaya memperluas akses dukungan psikologis dan memperkuat pencegahan bunuh diri di Indonesia.

Perwakilan Kemenkes RI, dr. Imran Pambudi mengungkapkan, layanan tersebut mencatat sekitar 284.000 kontak selama periode Juli 2025 hingga September 2026. Jumlah panggilan yang sebelumnya berkisar 450 per hari meningkat menjadi 550–600 panggilan per hari. “Dari sisi pemerintah, mungkin kita senang karena layanannya digunakan. Tetapi yang memprihatinkan, kok banyak orang yang menelepon? Berarti ada masalah yang selama ini belum terungkap,” ujarnya saat konferensi pers 6th International Zero Suicide Summit 2026 di The Apurva Kempinski Bali, Kuta Selatan, Selasa (13/10) lalu.

Baca Juga:   RSUD Giri Asih Masih Kekurangan Dokter Spesialis

Menurut Imran, tingginya pemanfaatan layanan tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat dukungan kesehatan jiwa sekaligus mengenali persoalan psikologis yang dialami masyarakat. Upaya pencegahan perlu dilakukan melalui deteksi dini, akses layanan yang lebih luas, serta dukungan yang mudah dijangkau ketika seseorang menghadapi krisis.

Salah satu upaya pemerintah dilakukan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang telah menjangkau sedikitnya 71 juta orang untuk skrining kesehatan jiwa. Hasil skrining menunjukkan indikasi depresi dan kecemasan pada anak-anak serta remaja hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.

Baca Juga:   BLINC 2026 di Bali, Ratusan Tenaga Kesehatan Bahas Penanganan Stroke dan Neurointervensi

Temuan tersebut memperkuat pentingnya perhatian terhadap kesehatan jiwa sejak usia dini. Namun, tantangan tidak berhenti pada deteksi. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, hanya 13 persen orang yang teridentifikasi mengalami depresi mengakses layanan kesehatan.

Stigma, keterbatasan biaya, serta ketidaktahuan mengenai cara mencari pertolongan masih menjadi sejumlah hambatan. Karena itu, penguatan layanan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan pemahaman masyarakat agar persoalan kesehatan jiwa dapat dikenali dan ditangani lebih awal.

Kemenkes juga telah melatih sekitar 950.000 orang melalui program Psychological First Aid (PFA) untuk memberikan dukungan awal kepada orang yang mengalami masalah psikologis. Data dan upaya tersebut menjadi bagian dari pembahasan 6th International Zero Suicide Summit 2026 yang berlangsung pada 13–14 Oktober di Bali. Forum yang diikuti ratusan delegasi dari lebih 30 negara ini mempertemukan pemimpin layanan kesehatan, akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi kesehatan jiwa untuk memperkuat strategi pencegahan bunuh diri.

Baca Juga:   Kasus Stroke Meningkat, Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama

Kemenkes berharap pertemuan internasional tersebut membuka ruang pertukaran pengalaman dan memperluas kolaborasi lintas negara. Strategi yang dikembangkan, menurutnya, perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat Indonesia agar upaya pencegahan serta layanan kesehatan jiwa dapat menjangkau lebih banyak orang. (BC5)