Pecalang Layak Dapat Insentif, Jaminan Kesehatan, dan Tunjangan Risiko Kerja

0
361
Pecalang
Wayan Puspa Negara. (ist)

Mangupura, balibercerita.com –
Pecalang sebagai ujung tombak pengamanan berbasis kearifan lokal desa adat di Bali perlu mendapatkan perhatian dan penghargaan yang lebih layak. Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara menyatakan bahwa selain pemberian insentif, pecalang juga patut menerima jaminan kesehatan khusus serta tunjangan risiko kerja.

“Pecalang adalah simbol kekuatan budaya dan keamanan lokal. Mereka tampil dengan aura spirit budaya yang disegani oleh masyarakat lokal, pendatang, hingga wisatawan mancanegara. Sudah saatnya keberadaan mereka diperkuat dengan bentuk penghargaan yang nyata,” ujar Puspa Negara.

Baca Juga:   Triwulan Pertama 2024, 37 WNA Dideportasi Kanim Ngurah Rai 

Ia menyoroti fakta bahwa tugas pecalang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi sering kali menghadapkan mereka pada situasi berisiko tinggi. “Kita tidak boleh lupa kasus pemukulan pecalang di Besakih beberapa waktu lalu. Ini membuktikan bahwa mereka juga rentan terhadap ancaman fisik dalam menjalankan tugas,” tambahnya.

Dengan APBD Kabupaten Badung tahun 2025 yang mencapai Rp10,7 triliun, Puspa Negara menilai sangat memungkinkan untuk mengalokasikan insentif kepada pecalang, sebagaimana telah dilakukan terhadap punggawa budaya dan tokoh adat lainnya. Selain itu, ia juga menyarankan agar dana dari pungutan wisatawan mancanegara senilai Rp150.000 per orang di Provinsi Bali diarahkan untuk mendukung ketahanan budaya dan lingkungan, termasuk insentif bagi pecalang.

Baca Juga:   Vila di Canggu Dinyatakan Langgar Sempadan, Bahkan Serobot Sungai

“Dukungan terhadap rencana ini sudah datang dari berbagai pihak, seperti Bupati Badung, anggota DPRD Badung, Gubernur Bali, hingga Kejaksaan Tinggi Bali. Saya mengusulkan agar nomenklatur tentang insentif dan tunjangan pecalang dimasukkan minimal dalam perubahan APBD Badung tahun anggaran 2025,” tegasnya.

Baca Juga:   MotoGP Mandalika 2025 Dongkrak Ekonomi NTB, Okupansi Hotel Capai 100 Persen dan 44 Extra Flight

Menurut Puspa Negara, keberadaan pecalang sebagai tabeng dada atau garda terdepan dalam menjaga keamanan desa adat harus terus dijaga keberlanjutannya. Desa adat bukan hanya pusat pelestarian budaya, tetapi juga menjadi daya tarik utama pariwisata Bali. Oleh karena itu, memperkuat eksistensi pecalang berarti menjaga jantung budaya dan pariwisata Bali itu sendiri. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini