Mangupura, balibercerita.com
Kesadaran akan pentingnya pendidikan yang tepat bagi anak berkebutuhan khusus terus meningkat. Hal ini tercermin dari lonjakan jumlah peserta didik baru di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Badung pada tahun ajaran 2024/2025. Sekolah ini menerima 75 siswa baru, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya 55 siswa.
Menurut Kepala SLB Negeri 1 Badung, Ni Nyoman Suwastarini, sebagian besar siswa baru berasal dari kategori anak dengan hambatan intelektual (tunagrahita). Ia menyebut lonjakan ini sebagai bukti meningkatnya kepedulian orang tua terhadap kebutuhan pendidikan yang sesuai bagi anak-anak dengan kondisi khusus.
Selain dari siswa umum, pihaknya juga menerima siswa pindahan dari sekolah umum, seperti SDN Benoa dan beberapa SD di Sukawati. Dari asesmen psikologis, mayoritas dari mereka memiliki IQ di bawah rata-rata, yaitu sekitar 65 dan membutuhkan layanan pendidikan khusus.
“Sekolah-sekolah umum mulai sadar bahwa ada anak-anak yang perlu pendekatan pembelajaran berbeda. Mereka diarahkan ke kami agar bisa berkembang lebih optimal,” ujar Suwastarini
SLBN 1 Badung menerima siswa baru dari berbagai jenjang, mulai dari TKLB, SDLB, SMPLB, hingga SMALB, mencakup kategori tunagrahita, tunarungu, hingga tunadaksa. Misalnya, di kelas 1 SDLB C ada 15 anak dengan hambatan intelektual. Sedangkan di kelas X SMALB C terdapat 18 anak tunagrahita, menunjukkan konsistensi kebutuhan pendidikan khusus hingga jenjang lanjutan.
Sementara itu, masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) digelar selama tiga hari, mulai Senin (21/7). Tidak sekadar perkenalan, kegiatan ini dirancang dengan pendekatan yang ramah dan edukatif. Hari pertama menghadirkan petugas dari Puskesmas Kuta Selatan untuk mengedukasi siswa soal pola hidup sehat, dilanjutkan materi dari kepolisian tentang keselamatan berlalu lintas.
Hari-hari berikutnya diisi dengan pembelajaran mengenai internet sehat, kesiapsiagaan bencana, serta penanganan kekerasan. Jadwal kegiatan sengaja dibatasi hingga pukul 11.00 Wita untuk menjaga stamina anak-anak dari berbagai jenjang. “Kami sesuaikan ritmenya agar tidak membebani mereka. Ini bagian dari adaptasi lembut terhadap lingkungan baru,” jelas Suwastarini.
Peningkatan penerimaan siswa ini bukan sekadar statistik, tetapi refleksi dari pergeseran paradigma: bahwa setiap anak berhak tumbuh dan belajar sesuai dengan kemampuannya. SLBN 1 Badung menjadi ruang aman bagi anak-anak itu untuk menemukan potensi terbaik dalam dirinya. (BC5)



















