Nuanu Creative City, Kota Kreatif yang Tumbuh dari Cinta Kini Resmi Membuka Pintu untuk Dunia

0
379
Nuanu
Nuanu Creative City. (ist)

balibercerita.com –
Di tepi barat daya Tabanan, sebuah kota lahir bukan dari ambisi megah semata, melainkan dari cinta, visi, dan kolaborasi mendalam antara manusia dan alam. Setelah lima tahun dirancang, dibangun, dan dijalin bersama komunitas lokal, Nuanu Creative City akhirnya resmi dibuka.

Mulai Agustus ini, siapa pun dapat datang untuk tinggal, belajar, mencipta, atau sekadar bermain di ruang kreatif seluas 44 hektare yang menjanjikan pengalaman hidup yang utuh, berpijak pada budaya Bali, terbuka pada dunia. “Perjalanan kami dimulai dari cinta kami terhadap Bali dan awal yang sederhana. Kami mengundang dunia untuk melihat bagaimana cinta itu tumbuh menjadi kota hidup yang penuh inspirasi,” ungkap CEO Nuanu, Lev Kroll.

Nuanu bukan sekadar tempat. Ia adalah ekosistem, tempat seni, teknologi, pendidikan, spiritualitas, dan komunitas berpadu. Sebuah kota di mana setiap sudutnya bercerita tentang kemungkinan masa depan yang lebih berkelanjutan, lebih berempati, dan lebih terhubung.

Sejak mulai terbuka bagi publik pada 2023, Nuanu langsung menancapkan jejak kuat. Di tahun pertamanya, berdiri ProEd Global School, sekolah internasional pertama di Tabanan. Di tengah ruang terbuka, berdiri pula Earth Sentinels, karya monumental dari seniman Afrika Selatan Daniel Popper, menjadi ikon visual dari semangat Nuanu.

Bersama teknologi AI yang diberi nama Aurora, lahirlah Aurora Media Park, jalur hutan interaktif seluas 5.000 meter persegi dengan delapan instalasi yang mengajak pengunjung menjelajah antara realitas dan imajinasi.

Baca Juga:   Garuda Indonesia Group Maksimalkan Potensi MotoGP Mandalika

Tak berhenti di sana, tahun 2024 menjadi tahun di mana Nuanu menegaskan diri sebagai standar baru gaya hidup di Bali. Dalam satu hari, 40 vila neo-luxury di bawah Nuanu Real Estate ludes terjual, mencerminkan tingginya minat akan hidup yang berkesadaran dan berkelanjutan.

Luna Beach Club hadir sebagai ruang hiburan yang bukan hanya indah secara arsitektur, tetapi juga memadukan musik, seni, dan pengalaman kolektif. Di dalamnya menjulang Menara THK (Tri Hita Karana), simbol harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas, dirancang oleh Arthur Mamou-Mani dalam kolaborasi antara seniman dan kecerdasan buatan. “Bali adalah inspirasi dari semua ini. Kami membangun bersama komunitas, bukan hanya untuk mereka,” tutur Brand & Communications Director Nuanu, Ida Ayu Astari Prada.

Salah satu kekuatan Nuanu adalah pendekatan lintas bidang yang saling mendukung. Di ranah kesehatan, hadir Lumeira, pusat kebugaran sosial dengan sauna kubah kayu terbesar di dunia dan perawatan khas Parenia.

Dari sisi budaya, Suara Festival menjadi pertemuan seniman lokal dan internasional, memperkaya kalender seni Bali. Labyrinth Art Gallery dan The Dome menawarkan pengalaman seni imersif 360°, pertama di Indonesia.

Nuanu juga meluncurkan Magic Garden, ruang hidup untuk konservasi biodiversitas, termasuk program pembiakan kupu-kupu yang bisa disaksikan langsung oleh pengunjung.

Baca Juga:   Mandalika Festival of Speed dan Kejurnas ITCR 2025 Putaran 2 Sukses Angkat Citra Indonesia

Memasuki 2025, lahir The Red Tent, ruang khusus perempuan yang disumbangkan Nuanu tapi dikelola independen oleh komunitasnya, dengan prinsip bahwa minimal satu penasihatnya selalu perempuan Bali. Tahun 2025 menjadi momentum penting. Nuanu memperkenalkan sistem tiket terintegrasi untuk menyambut lebih banyak pengunjung.

Dalam waktu dekat, hadir pula SOL Studio, pusat tari kontemporer Bali Mystic, yang mengemas kembali tarian kecak dengan teknologi proyeksi modern dan Kecak di Nuanu, pertunjukan komunitas di amfiteater bambu.

Di sektor hospitality, OSHOM Bali membuka 11 suite laut dan 8 treehouse di hutan mangrove. Sementara, Nuanu Suites & Accommodations memperkenalkan tiga konsep hotel eksperimental, menawarkan cara baru dalam memahami pengalaman menginap.

Dua inisiatif besar akan menandai akhir tahun ini yaitu FOTO Bali Festival, yang merupakan sebuah festival fotografi internasional pertama di Bali, dan Art & Bali, pameran seni rupa bertaraf internasional yang ditargetkan menjadi referensi baru di Asia Tenggara. Oktober juga akan menjadi awal dari Nuanu Future Talks, forum terbuka antara pengembang, pemerintah, dan komunitas demi pembangunan Bali yang transparan, inklusif, dan berkelanjutan.

Di balik kemegahan proyek, Nuanu menempatkan dampak sosial dan lingkungan sebagai pondasi. Melalui Nuanu Social Fund (NSF), lebih dari Rp4,1 miliar telah disalurkan dalam tiga tahun terakhir. Program ini melibatkan hampir 5.000 peserta, memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 2.200 orang, serta dukungan personal kepada 893 individu.

Baca Juga:   Implementasi Smart Lighting di The Nusa Dua Ditarget Rampung dalam Dua Tahun

Nuanu Junior Angels Foundation juga fokus pada pendidikan anak di Desa Beraban dan Pandak Gede. Lebih dari 300 anak mendapat akses belajar seni, bahasa Inggris, matematika, hingga kewirausahaan, menumbuhkan benih penggerak masa depan.

Dari sisi ekologi, capaian Nuanu mengesankan. Sebanyak 114.700 pohon ditanam, 12.000 kupu-kupu dilepasliarkan, 95 persen limbah didaur ulang, dan lebih dari 87 ton kompos dimanfaatkan untuk menunjang ekosistem lokal. Bahkan 3.300 anggrek telah dikonservasi.

Perjalanan Nuanu belum usai dan tampaknya baru dimulai. Pada 2026, akan hadir Acadia, pusat kuliner bernuansa Maroko yang ditargetkan masuk jajaran lima destinasi kuliner terbaik di Asia Tenggara. Sementara Desa Jiwa, kawasan khusus fashion dengan arsitektur khas Bali, akan menghidupkan kreativitas lokal dengan cara baru.

Yang paling dinanti, Eugene Museum, digagas oleh seniman kontemporer Eugene Kangawa, siap menyambut publik setelah dua tahun perencanaan intensif. Museum ini akan menjadi simbol dedikasi Nuanu terhadap seni dan pemikiran masa depan.

Di tengah cepatnya perubahan dunia, Nuanu menawarkan alternatif: cara hidup yang terhubung kembali dengan akar, dengan komunitas, dan dengan planet ini. Kota ini bukan utopia, tapi contoh nyata bahwa investasi, budaya, dan kebaikan bisa berjalan berdampingan. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini