balibercerita.com –
Batuk, pilek, dan demam ringan di musim hujan sering dianggap hal lumrah pada anak. Namun, di balik gejala yang tampak sepele itu, bisa jadi tersimpan ancaman virus yang lebih berbahaya berupa respiratory syncytial virus (RSV).
Virus ini memiliki gejala mirip flu, tapi bisa berkembang cepat menjadi infeksi pernapasan berat, terutama pada bayi prematur dan anak dengan penyakit bawaan. RSV bahkan disebut sebagai penyebab kematian tertinggi kedua pada bayi di bawah usia satu tahun di dunia.
“Gejalanya sering tampak ringan, tapi bisa memburuk dalam waktu singkat. Karena itu, kewaspadaan dan pencegahan dini sangat penting, terutama di musim hujan,” jelas Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K), Subspesialis Neonatologi.
Di Indonesia, kasus RSV meningkat pada November hingga Maret, seiring musim hujan. Virus ini mudah menular melalui percikan liur, batuk, dan sentuhan pada benda yang terkontaminasi.
Bagi bayi prematur, risiko komplikasi RSV bisa tiga kali lebih tinggi dibanding bayi cukup bulan. Mereka memiliki paru-paru yang belum sempurna dan sistem imun yang masih lemah. “Ketika terinfeksi RSV, lendir bisa menyumbat saluran napas kecil dan menyebabkan kesulitan bernapas hingga henti napas sementara,” ujar Prof. Rina.
Sementara, bayi dengan penyakit jantung bawaan (PJB) memiliki risiko rawat inap hingga lima kali lebih tinggi, dan anak dengan gangguan paru kronis bahkan bisa menghadapi risiko hingga 20 kali lipat lebih besar dibanding anak sehat.
dr. Rizky Adriansyah, Sp.A(K), konsultan kardiologi anak, menambahkan, infeksi RSV dapat menunda tindakan medis penting bagi bayi dengan penyakit jantung. Ini situasi yang sangat berat bagi keluarga, padahal sebenarnya bisa dicegah.
RSV seringkali diawali dengan gejala ringan seperti flu, batuk, pilek, dan demam. Namun, dalam beberapa hari bisa berkembang menjadi kondisi serius.
Waspadai tanda-tanda napas cepat atau tersengal, napas berbunyi, dada tampak tertarik ke dalam saat bernapas, dan bayi sulit menyusu atau tampak lemas. Jika muncul gejala tersebut, segera bawa anak ke dokter. Penanganan cepat bisa menyelamatkan nyawa, terutama bagi bayi di bawah enam bulan.
Mencegah RSV sebenarnya tidak sulit. Hal-hal kecil yang sering kita abaikan justru bisa membuat perbedaan besar. Seperti rajin mencuci tangan dengan sabun sebelum menyentuh bayi, hindari mencium bayi jika sedang pilek atau batuk, Jaga ventilasi rumah tetap baik, hindari membawa bayi ke tempat ramai saat musim hujan.
Untuk bayi dengan risiko tinggi, seperti bayi prematur atau anak dengan PJB, dokter menyarankan imunoprofilaksis (imunisasi pasif) menggunakan Palivizumab, antibodi monoklonal yang memberi perlindungan langsung terhadap RSV.
Berbeda dari vaksin biasa, Palivizumab memberikan antibodi siap pakai yang efektif melindungi bayi dengan sistem imun yang belum matang. Studi menunjukkan, langkah ini bisa menurunkan risiko rawat inap akibat RSV hingga lebih dari 50 persen.
Kesadaran orang tua menjadi faktor penting dalam melindungi anak dari infeksi RSV. Karena itu, AstraZeneca Indonesia berkomitmen memperluas edukasi dan akses terhadap imunoprofilaksis berbasis antibodi monoklonal. “Kesehatan anak adalah fondasi masa depan bangsa,” ujar Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia.
Perlindungan terhadap penyakit pernapasan seperti RSV memerlukan kerja sama semua pihak, orang tua, tenaga medis, dan pemerintah agar langkah pencegahan dapat dimulai sejak dini. Musim hujan memang tak bisa dihindari, tapi perlindungan bisa disiapkan sejak sekarang. Karena di setiap napas kecil anak kita, ada masa depan yang harus dijaga. (BC5)



















