balibercerita.com –
Bagi Boy Warongan, musik bukan sekadar hiburan, melainkan doa yang dinyanyikan dalam perjalanan panjang menuju Sang Pencipta. Musisi asal Pematang Siantar, Sumatera Utara ini memulai langkahnya bukan dari panggung, melainkan dari ruang kelas sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi negeri.
Di balik kesibukan akademiknya, tersimpan gelombang kreativitas yang akhirnya menemukan jalannya lewat album debut berjudul Juang Angan. Dibesarkan sebagai anak seorang pelaut, Boy tumbuh dengan aroma laut dan cerita pelayaran yang tak pernah usai. Dunia nakhoda dan samudra itu membentuk pandangannya tentang kehidupan sebagai perjalanan penuh angan, badai, dan pencarian makna. Dalam setiap notasi dan liriknya, Boy seolah mengajak pendengar berlayar bersamanya menyusuri gelombang batin menuju kedamaian spiritual.
Perjumpaan dengan almarhum Ade Paloh, frontman band legendaris Sore, menjadi titik balik penting dalam perjalanan Boy. Dari sosok yang dikenal dengan kepekaan artistiknya itu, Boy belajar bahwa musik sejati lahir dari kejujuran rasa. Dorongan dan bimbingan Ade akhirnya melahirkan Juang Angan, sebuah album bernuansa alternatif-pop kontemplatif yang merefleksikan kerinduan, keterasingan, serta pencarian spiritual di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.
Kepergian Ade Paloh pada tahun 2024 meninggalkan duka mendalam bagi Boy. Namun semangat sang mentor justru menjadi nyala yang mendorongnya untuk terus berkarya. Dalam proses produksi, Boy menggandeng S. Pramudita dan Sekaranggi (Tigapagi) sebagai produser, dua nama yang dikenal memiliki sentuhan musikal puitis dan eksperimental.
Album Juang Angan juga menghadirkan kolaborasi dengan sejumlah musisi lintas warna, seperti Gabriella Fernaldi, Abyan Zaki Nabilio (The Panturas), dan J. Alfredo (Romantic Echoes). Kombinasi ini melahirkan lanskap bunyi yang lembut namun sarat makna, perpaduan antara nuansa akustik, elemen ambient, dan lirik-lirik reflektif yang mengajak pendengar menelusuri ruang batin paling sunyi.
Dengan suara hangat dan narasi yang jujur, karya Boy Warongan menghadirkan pengalaman musikal yang tidak sekadar didengar, tetapi dirasakan. Juang Angan bukan hanya album, melainkan catatan spiritual tentang perjuangan manusia mencari arah dan tujuan hidup. “Musik bagi saya adalah perjalanan menuju rumah, tempat jiwa akhirnya menemukan tenang,” tutur Boy dalam salah satu sesi wawancara.
Lewat Juang Angan, Boy Warongan membuktikan bahwa spiritualitas dan seni dapat berjalan beriringan, melahirkan karya yang menyentuh, mendalam, dan abadi, sebuah pelayaran yang dimulai dari Pematang Siantar, menuju samudra luas bernama kehidupan. (BC5)


















