Selain memakai gesing, kini ia juga menggunakan gips yang sering dipakai pengobatan medis dalam menangani pasien patah tulang. Namun penggunaan sarana itu hanya pada pasien yang mengalami patah tulang pada bagian tertentu, seperti siku tangan, paha, pinggul. Sedangkan jika pasien mengalami patah di punggung, lumbar sacral, atau saraf kejepit, ia memakai korset (baju besi) yang dikenakan ke tubuh pasien. Kebanyakan pasien yang ia tangani pasti sembuh dari patah tulang yang dialami, selama yang bersangkutan mau disiplin mengindahkan saran dan anjuran berobat. Hanya masalah stroke yang cukup sulit ditangani pihaknya, karena itu disebabkan diabetes dan hipertensi, bukan gangguan pada anatomi.
Selama menekuni usadha urut, ia mengaku tidak pernah melakukan promosi. Pasien yang datang kepadanya bersumber dari informasi mulut ke mulut pasien yang berhasil ditangani hingga sembuh. Selama ini ia juga tidak pernah mematok harga kepada pasien, karena mereka dipersilahkan untuk menghaturkan punia seikhlasnya di palinggih sesuhunan tempat ia menjalankan praktik pengobatan, yaitu Ida Ratu Dukuh. Tidak ada sarana khusus yang diperlukan dalam melakukan pengobatan, pasien dipersilakan datang berbekal kepercayaan yang berlaku sesuai desa, kala, patra setempat.
















