balibercerita.com –
Upaya pengendalian rabies di Kabupaten Badung masih menghadapi tantangan, terutama di wilayah dengan tingkat mobilitas dan populasi anjing yang tinggi. Hingga April 2026, kasus rabies pada hewan masih ditemukan dengan pola sebaran yang relatif serupa dibanding tahun sebelumnya. Dinas Pertanian dan Pangan Badung mencatat sebanyak 13 kasus rabies pada hewan sejak Januari hingga April tahun ini.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Badung, drh I Gusti Ngurah Narendra Putra menyebut tren tersebut relatif sama dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Dari Januari sampai April ini tercatat 13 kasus. Untuk tren masih sama seperti tahun lalu,” ujarnya.
Ia merinci, Kecamatan Kuta Selatan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak yakni 6 kasus. Sementara, Kecamatan Kuta Utara, Kuta, dan Mengwi masing-masing mencatat 2 kasus, serta Abiansemal 1 kasus. Adapun Kecamatan Petang tidak ditemukan kasus. “Memang Kuta Selatan masih rawan, sehingga vaksinasi kita genjot di sana untuk menekan penyebaran,” jelasnya.
Menariknya, kasus rabies yang ditemukan tidak hanya berasal dari anjing liar, tetapi juga melibatkan hewan peliharaan. Beberapa kasus bermula dari temuan anjing dengan gejala rabies di jalan, yang kemudian dibawa ke klinik untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Dalam penanganannya, Dinas Pertanian dan Pangan Badung berkolaborasi dengan fasilitas kesehatan. Untuk hewan, dilakukan penanganan langsung serta vaksinasi darurat di sekitar lokasi kasus. Sementara pada manusia, penanganan dilakukan oleh Puskesmas melalui pelacakan terhadap warga yang sempat melakukan kontak. “Kalau ada kasus positif, kami langsung lakukan vaksinasi di sekitar lokasi. Untuk manusia, Puskesmas melakukan tracing siapa saja yang kontak,” katanya.
Meski program vaksinasi rabies sudah mulai berjalan sejak 7 April, dampaknya belum bisa terlihat dalam waktu dekat. Hasilnya diperkirakan baru akan tampak dalam dua hingga tiga bulan ke depan. “Sekarang masih tahap awal vaksinasi. Biasanya setelah Mei atau Juni baru terlihat apakah kasusnya menurun,” sebutnya.
Di lapangan, petugas masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjangkau anjing liar yang sulit ditangkap. Kondisi ini menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya eliminasi rabies di Badung. “Anjing liar ini sering bersembunyi dan sulit ditangkap, itu yang jadi kendala utama,” ungkapnya.
Untuk itu, masyarakat diimbau ikut berperan aktif dalam pencegahan rabies, salah satunya dengan rutin memvaksin hewan peliharaan serta tidak melepasliarkannya. “Vaksinasi adalah kunci utama. Selain itu, jangan melepasliarkan anjing peliharaan agar tidak kontak dengan hewan yang berpotensi rabies,” tandasnya. (BC5)

















