Kendati Pasar Domestik Potensial, Wisatawan Mancanegara Sangat Dibutuhkan

0
299
Bali
Wisatawan mancanegara yang sedang berlibur di Nusa Penida. (BC5)

Mangupura, balibercerita.com –

Kendati pangsa pasar wisatawan domestik (wisdom) cukup potensial, namun hal itu dinilai tidak cukup untuk menggairahkan ekonomi Bali. Saat ini Bali tidak bisa mengandalkan kunjungan domestik semata, melainkan harus mengkombinasikan dengan wisatawan mancanegara (wisman). Sebab wisman memiliki dampak 5 kali lipat dari kunjungan domestik.

Menurut Ketua PHRI Badung, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, ada beberapa indikator bahwa kunjungan wisman sangat menjanjikan bagi Bali. Diantaranya, masa tinggal (length of stay) wisman yang mencapai dua minggu, bahkan sebulan. Sedangkan domestik rata-rata hanya 4 hari 3 malam. Dari sisi daya beli (spending money) wisman rata-rata mengeluarkan budget USD 100-200 per hari per orang, sedangkan domestik rata-rata kurang dari 100 dolar per hari. “Untuk domestik, shopping-nya kurang, kebanyakan mereka mencari suasana dan jalan-jalan,” ucapnya.

Baca Juga:   Sambut Wisatawan Mancanegara, South Beach Gaungkan Kuta Kembali

Kendati demikian, kunjungan wisdom saat ini memang sangat diperlukan. Paling tidak bisa mengisi kekosongan kamar hotel. Jika hal itu dapat dioptimalkan menjadi 15-20 ribu kunjungan per hari, tentu cukup berdampak bagi ekonomi Bali. Saat ini kunjungan wisdom tertinggi berkisar 9-11 ribu, itupun saat weekend. 

Saat ini, occupancy kamar hotel di Bali lebih didominasi domestik dengan rata-rata 20 persen dari total kamar yang disediakan. Karena itu kunjungan wisman perlu digenjot agar kondisinya meningkat. Jika setiap harinya ada 5 sampai 10 pesawat mendarat di Bali, dengan keterisian satu pesawat 200 orang wisman, minimal angka keterisian akomodasi wisata bisa mencapai 1 juta. Dengan demikian karyawan akan lebih banyak dipekerjakan, karena saat ini baru 30 persen jumlah karyawan akomodasi wisata yang kembali dipekerjakan. 

Baca Juga:   Sanur Village Festival 2025 Usung Tema “Guna Dusun”, Angkat Filosofi Ilmu dan Pengabdian Tokoh Spiritual Sanur

“Saat ini hotel yang beroperasi baru 30 persen, ada 70 persen yang masih buka tutup. Itu karena tidak semua kamar terisi, dan pihak hotel melakukan efisiensi operasional. Mereka menyesuaikan dengan cash flow, sambil melakukan maintenance,” paparnya.

Maka dari itu ia berharap program warm up vacation bisa sukses dilaksanakan. Sehingga wisman akan lebih banyak yang datang ke Bali, dan akan lebih banyak hotel yang akan mengadopsi pola bubble hotel. Tentunya hal itu akan disesuaikan dengan kelas hotel dan paket yang ditawarkan, demi memberikan variasi harga bagi tamu. Seperti paket premium, biasa, reguler. Hal itu memang harus dibedakan klasternya, karena pihaknya ingin mengisi seluruh akomodasi wisata. Sehingga kondisinya merata, ekonomi bergerak dan ekonomi lokal berdampak. 

Baca Juga:   Keamanan dan Okupansi Kawasan Nusa Dua Terjaga, ITDC Pastikan Kesiapan Maksimal

“Dari paket bubble hotel saat ini, memang kecenderungan itu untuk high class saja yang bisa. Package ini selektif untuk market high end saja,” imbuhnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini