Kelompok Nelayan Prapat Agung Patasari, Penyelamat Ekosistem Sungai dan Mangrove Kuta

0
278
Nelayan
Kelompok Nelayan Prapat Agung Mangening Patasari meraih penghargaan bergengsi Kalpataru Lestari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. (ist)

Mangupura, balibercerita.com –

Kelompok Nelayan Prapat Agung Mangening Patasari, yang berbasis di muara Tukad Mati, Kuta, berhasil meraih penghargaan bergengsi Kalpataru Lestari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Mereka menjadi satu dari 12 penerima nasional berkat dedikasi mereka selama lebih dari lima tahun dalam menyelamatkan kawasan sungai dan hutan mangrove di Kawasan Konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, tepatnya di titik Patasari Kuta.

Penghargaan ini menambah deretan prestasi kelompok yang sebelumnya telah menerima Adipura tahun 2019 atas kiprah lingkungan mereka. I Nyoman Sukra (50), tokoh sentral gerakan ini sekaligus mantan ketua kelompok, kini memimpin Komunitas Peduli Sungai Tukad Mati Lestari. Pria yang akrab disapa Mandolpin ini adalah putra asli Banjar Temacun, Kuta, yang sejak lama mengabdikan dirinya untuk penyelamatan lingkungan di kampung halamannya.

Baca Juga:   Waspadai Investasi dan Pinjaman Online Ilegal 

Tukad Mati, nama sungai yang dulunya dianggap mati akibat pencemaran berat dan menjadi TPA liar sejak 1990-an, kini perlahan kembali hidup. “Tukad itu artinya sungai dan sungai ini yang kami revitalisasi. Dahulu rusak total, mangrove hilang, air hitam, dan bau. Tapi kini sudah menjadi paru-paru Kuta,” ungkap Mandolpin.

Kawasan muara Tukad Mati bukan sekadar aliran air. Ia menyebutnya sebagai “benteng terakhir dari gempuran banjir dan sampah” di wilayah padat wisata seperti Kuta, Legian, hingga Seminyak. Sungai ini juga memiliki nilai historis sebagai pintu masuk awal pariwisata Bali pada masa lampau.

Sejak 2012, kelompok ini telah menyelamatkan dan menanam kembali mangrove dari luas awal 12 hektar menjadi sekitar 25 hektar. Mereka juga berhasil menghidupkan kembali berbagai jenis satwa, termasuk burung-burung dan ikan yang sebelumnya menghilang akibat degradasi lingkungan. “Kalau dulu jangankan melihat burung, airnya saja hitam dan berbau. Sekarang, satwa sudah mulai kembali,” jelasnya.

Baca Juga:   Bupati Badung Tegaskan Komitmen Majukan Desa Kutuh

Meski sempat diragukan dan bahkan dianggap “tidak pantas” oleh sebagian pihak, semangat kelompok ini tidak surut. “Kami tetap lanjut karena kami orang Kuta dan ini adalah halaman rumah kami sendiri,” tegasnya.

Kini, komunitas ini melibatkan 49 warga aktif, dan secara rutin melakukan pembersihan sungai hingga tiga kali seminggu, terutama saat musim hujan. Tim khusus bahkan dibentuk untuk respons cepat saat sampah kiriman meningkat.

Jenis sampah yang mereka temukan pun bervariasi, dari popok sekali pakai hingga bangkai binatang dan bahkan jenazah. “Sampah-sampah besar seperti kulkas dan spring bed juga sering hanyut ke muara,” katanya.

Kesadaran masyarakat perlahan tumbuh berkat edukasi terus-menerus yang dilakukan. “Kami ingin sungai tidak lagi jadi halaman belakang, tapi halaman depan. Jadi warga tidak buang sampah sembarangan lagi,” katanya.

Baca Juga:   Pembangunan IKN, Bali Bawa Tanah dan Air Pura Pusering Jagat

Mereka bahkan membangun balai edukasi lingkungan di muara Tukad Mati serta aktif dalam 10th World Water Forum 2024 di Bali, sambil membina 40 kader penyelamat sungai dari berbagai wilayah. Tak hanya konservasi, komunitas juga mengembangkan urban farming seperti hidroponik dan taman bumi banten, yang menyelamatkan tanaman upacara dan obat khas Bali. Setiap tahun, mereka mendistribusikan sekitar 25.000 bibit tanaman (termasuk mangrove, buah, dan tanaman langka) kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di tengah laju pembangunan dan mahalnya lahan di Kuta, kawasan muara ini diharapkan menjadi ruang terbuka hijau terakhir yang bisa dinikmati oleh masyarakat lokal. “Dulu tak layak dikunjungi, sekarang jadi tempat yang bisa dibanggakan,” ucap Mandolpin. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini