Festival Seni Budaya Kuta Kembali Ditiadakan

0
271
Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista.
Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista. (ist)

Mangupura, balibercerita.com – 

Sebagai wilayah yang dijuluki sebagai Kampung Turis, Desa Adat Kuta tetap mempertahankan dan melestarikan tradisi, seni, adat, dan budaya yang diwariskan pendahulunya. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Kuta sebagai ikon pariwisata Bali. Salah satu wadah yang dipergunakan untuk melestarikan budaya dan menjadi wadah kreativitas pemuda (yowana) di Desa Adat Kuta adalah Festival Seni Budaya (FSB) Kuta.

Dalam festival yang dilaksanakan setahun sekali itu, ada 3 kegiatan yang ditampilkan serangkaian hari raya Nyepi yaitu lomba ogoh-ogoh, Jegeg Bungan Desa (kontes kecantikan pemudi Kuta) serta Pasar Majelangu (pasar rakyat yang berisi pertunjukan seni budaya). Kegiatan itu diikuti oleh perwakilan dan sekaa teruna dari masing-masing banjar adat di Kuta yang jumlahnya 13 banjar.

Baca Juga:   Dukung Finishing Pura Punduk Dawa, Giri Prasta Gelontorkan Hibah Rp45,2 Miliar

Sayangnya, tahun ini festival tersebut kembali tidak digelar atas pertimbangan situasi dan kondisi di lapangan. Peniadaan ajang bergengsi di Desa Adat Kuta itu menjadi yang ketiga kalinya dilakukan. Setelah pada dua tahun lalu dihentikan mendadak di tengah jalan dan begitupun tahun lalu. “Tahun ini Festival Seni Budaya Kuta memang kembali tidak kami laksanakan,” ucap Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista.

Baca Juga:   Begini, Akulturasi Budaya dalam Tradisi Bakcang di Pantai Kuta

Kendati demikian, pawai ogoh-ogoh akan tetap dilaksanakan. Namun hal itu bukanlah bagian dari festival, karena tidak dilombakan. Hal itu sebagai ruang pelestarian tradisi ogoh-ogoh, agar tidak sampai menghilang karena pandemi Covid-19. Ketentuan pelaksanaannya juga akan mengikuti aturan yang dikeluarkan pemerintah, seperti pembatasan jumlah peserta dan ogoh-ogoh, pembatasan wilayah pelaksanaan kegiatan yang hanya di lingkungan bajar, menerapkan prokes dan sebagainya. “Ketika ogoh-ogoh selesai diarak, posisinya akan ditempatkan di balai banjar. Jadi tidak akan ditempatkan di Pantai Kuta seperti pelaksanaan festival,” ujarnya.

Baca Juga:   Tari Rejang Giri Putri Dipentaskan Perdana Saat Pujawali Pura Lingga Bhuwana 

Sedangkan untuk Pasar Majelangu, hal itu masih dipertimbangkan untuk diakomodir. Jika dilaksanakan, kegiatan itu tidak akan fokus diadakan di satu area, melainkan mengalir seperti hari biasanya. Dalam waktu dekat, pihaknya akan menggelar parum (rapat) dengan prajuru untuk membahas kegiatan tersebut. “Nanti kita akan menggelar rapat bersama prajuru desa pada tanggal 2 Februari 2022,” tegasnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini