Fenomena Pelari Kalcer, Lari Jadi Panggung Fashion di Era Digital

0
275
Pelari kalcer
Ilustrasi pelari. (ist)

balibercerita.com –
Olahraga lari selama ini identik dengan aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena baru di kalangan anak muda perkotaan yang diistilahkan pelari kalcer.

Istilah ini berasal dari plesetan kata culture (budaya), yang menggambarkan gaya hidup baru di mana olahraga lari dipadukan dengan tren fashion, teknologi, hingga eksistensi di media sosial. Bagi pelari kalcer, lari bukan sekadar olahraga, melainkan sebuah lifestyle yang menyatukan kesehatan, gaya, dan citra diri.

Mereka mudah dikenali. Mereka tampil dengan outfit stylish yang serasi, sepatu lari keluaran terbaru berteknologi karbon, pakaian olahraga bermerek, hingga smartwatch yang bisa merekam detak jantung sekaligus menampilkan notifikasi media sosial. “Kalau lari rasanya nggak lengkap kalau nggak pakai gear terbaru,” ujar salah seorang anggota komunitas pelari kalcer di Denpasar. Baginya, outfit yang keren menambah motivasi sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.

Baca Juga:   Potensi Motor Listrik di Indonesia Sangat Besar, Namun Masih Butuh Edukasi dan Konsistensi

Fenomena ini tak bisa dilepaskan dari peran media sosial. Instagram, TikTok, hingga Strava dipenuhi unggahan foto, video, dan cerita para pelari kalcer. Mulai dari gaya start, proses berlari, sampai pose menembus garis finish, semua terdokumentasi dengan estetika visual yang matang.

Baca Juga:   BHA Talent Show, Wadah Kreativitas Insan Perhotelan Bali

Tak jarang, pelari jenis ini justru lebih sibuk memilih angle foto ketimbang mencatat personal best time (PBT). “Yang penting konten jalan terus,” kata salah seorang pelari sambil tertawa.

Event lari massal seperti fun run, marathon, atau charity run bukan lagi semata kompetisi. Ajang itu menjelma menjadi ruang sosial untuk bertemu komunitas, berfoto bersama, sekaligus memamerkan outfit terbaru. Di sana, para pelari kalcer membuktikan bahwa mereka bagian dari tren hidup sehat namun tetap fashionable.

Fenomena ini memunculkan perdebatan. Di satu sisi, pelari kalcer dianggap membawa energi positif karena membuat olahraga lari semakin populer, bahkan menjadi tren gaya hidup urban. Di sisi lain, ada kritik bahwa budaya ini sarat konsumerisme dan lebih mementingkan citra ketimbang esensi olahraga.

Baca Juga:   The People’s Cafe Beachwalk Hadirkan Harmoni Cita Rasa di Jantung Kuta

Namun, apapun pro dan kontranya, pelari kalcer telah menjadi wajah baru dunia lari di era digital. Sebuah gaya hidup yang menyatukan aktivitas fisik, estetika, serta eksistensi di dunia maya. Bagi mereka, lari bukan hanya soal keringat tetapi juga soal identitas, gaya, dan eksistensi yang selalu relevan dengan zaman. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini