Edukasi Diabetes Inovatif di Denpasar, Baku Gandeng Ahli Internasional dan Komunitas Lokal

0
136
Diabetes
Edukasi kesehatan bertema perawatan diabetes di Denpasar oleh Baku. (ist)

balibercerita.com –
Lonjakan jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data International Diabetes Federation (2025), jumlah penderita telah menembus lebih dari 20 juta orang dan terus meningkat setiap tahun. Kondisi ini mendorong perlunya langkah nyata dalam edukasi dan pencegahan di tengah masyarakat.

Menjawab tantangan tersebut, Bama Karya Usada (BAKU) menggelar kegiatan edukasi kesehatan bertema perawatan diabetes di Denpasar. Program yang berlangsung di lingkungan Mastrada Group ini dikemas secara inovatif dengan menggabungkan edukasi medis, praktik langsung, hingga pendekatan gaya hidup sehat berbasis traditional Chinese medicine (TCM). Kegiatan ini menghadirkan narasumber internasional, Lin Yingjie dari Third Affiliated Hospital of Sun Yat-sen University, yang memberikan pemahaman komprehensif terkait pengelolaan diabetes secara holistik.

Baca Juga:   Membangun Keluarga, Membangun Bangsa: PKB–PLKB Bali Jadi Garda Terdepan, Pastikan Layanan Bangga Kencana Tetap Hadir di Arus Mudik

Direktur Utama Baku, David Kurniawan menegaskan bahwa peningkatan kasus diabetes harus diimbangi dengan literasi kesehatan yang memadai di masyarakat. “Jumlah penderita diabetes yang terus meningkat menjadi alarm bagi kita semua. Kami ingin menghadirkan edukasi yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dan bisa langsung diterapkan,” ujarnya, Minggu (29/3).

Berbeda dari edukasi kesehatan pada umumnya, program ini dirancang sebagai pengalaman belajar menyeluruh. Peserta yang berasal dari Jemaat Gereja Pantekosta Tabernakel Baithani, khususnya komunitas Virtuous Ladies, tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga mengikuti pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, hingga praktik memasak makanan sehat bagi penderita diabetes.

Baca Juga:   Kasus DBD di Tabanan Fluktuatif, Warga Diminta Aktif Lakukan PSN

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Yehaziel Silvanus Elnatan Osiyo yang menilai edukasi kesehatan berbasis komunitas sangat penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Antusiasme peserta terlihat tinggi, terutama saat sesi praktik memasak yang dinilai relevan dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi ibu rumah tangga. Peserta juga mendapatkan pemahaman tentang konsep pengobatan TCM, mengetahui kondisi kesehatan tubuh, serta memperoleh rekomendasi pola hidup sehat yang tepat.

Baca Juga:   Selama Karya IBTK, Tiga Pos Kesehatan Besakih Beroperasi Nonstop

Program ini merupakan bagian dari rangkaian edukasi berkelanjutan Baku di Bali. Sehari sebelumnya, kegiatan serupa juga digelar di Politeknik Internasional Bali dengan menyasar kalangan akademisi dan pelaku pariwisata.


Melalui pendekatan yang mengintegrasikan edukasi medis, praktik langsung, dan pemberdayaan komunitas, Baku berharap dapat berkontribusi dalam menekan laju peningkatan kasus diabetes mellitus di Indonesia, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya gaya hidup sehat. (BC5)