Beranda Sosial Dukung Pencarian Korban Longsor, Tiga Posko Dibuka di Pelaga Eco Park

Dukung Pencarian Korban Longsor, Tiga Posko Dibuka di Pelaga Eco Park

0
Longsor di Pelaga Eco Park
Salah satu posko yang dibuka untuk pencarian korban dan penanganan longsor di Pelaga Eco Park, Senin (2/11). (ist)

balibercerita.com –
Upaya pencarian korban longsor di Pelaga Eco Park, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, diperkuat dengan pendirian tiga posko di sekitar lokasi kejadian. Posko tersebut terdiri dari Posko SAR Gabungan Bencana Tanah Longsor, Pos Kesehatan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Bali, serta Pos Pengaduan Orang Hilang.

Ketiga posko ditempatkan di Pelaga Eco Park, lokasi terjadinya longsor yang menyebabkan dua orang wisatawan dilaporkan hilang. Keberadaan posko ini tidak hanya mendukung proses pencarian, tetapi juga memfasilitasi pelayanan kesehatan dan pendataan keluarga korban.

Kasubbid Dokpol Biddokkes Polda Bali, AKBP I Nyoman Rinda menjelaskan, posko SAR gabungan difungsikan sebagai pusat koordinasi dalam operasi pencarian dan penanganan bencana. Sementara itu, Pos Pengaduan Orang Hilang disiapkan untuk mendukung proses identifikasi korban melalui tahapan ante-mortem dalam prosedur disaster victim identification (DVI).

Baca Juga:   Pemkab Badung Distribusikan Logistik ke 38 SPBU

Melalui pos tersebut, keluarga yang kehilangan anggota keluarganya dapat menyampaikan laporan sekaligus memberikan informasi mengenai identitas dan ciri-ciri korban. Data yang terkumpul nantinya menjadi bahan pembanding dengan hasil pemeriksaan terhadap korban yang ditemukan.

“Di dalam investigasi itu ada beberapa tahap, yaitu pos ante-mortem dan post-mortem. Di pos pengaduan orang hilang atau pos ante-mortem ini keluarga yang datang akan memberikan data dan ciri-ciri korban yang hilang,” ujarnya, saat ditemui Senin (2/11).

Baca Juga:   Badung Raih Penghargaan Terbaik I Kategori Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten Regional Jawa–Bali

Ia menerangkan, identifikasi tidak semata-mata dilakukan berdasarkan pengenalan wajah atau kondisi fisik korban. Jika identifikasi secara visual sulit dilakukan, tim dapat menggunakan metode pemeriksaan DNA maupun data odontologi atau rekam gigi.

Kalau korban tidak bisa dikenali sama sekali wajahnya, bisa dilakukan tes DNA antara keluarga dengan korban. Begitu juga dari data gigi, seperti bentuk gigi, rahang atau gigi yang hilang,” paparnya.

Selain mendukung proses identifikasi, Biddokkes Polda Bali juga menyiagakan pos kesehatan untuk melayani warga yang selamat maupun personel yang terlibat dalam penanganan bencana. Sejumlah tim telah dikerahkan untuk mendukung kebutuhan medis dan operasional di lapangan.

Baca Juga:   Apresiasi Petugas Pendukung HUT Kota Amlapura, Pemkab Karangasem Salurkan Sembako

“Untuk kesehatan, kami mengerahkan banyak karena sejak awal belum tahu persis kondisi awalnya. Ada tim kesehatan, tim yang melaksanakan pencarian, kemudian tim pos ante-mortem,” ungkapnya.

Rinda menyampaikan, pos kesehatan dan pos pengaduan orang hilang direncanakan beroperasi selama satu minggu setelah kejadian longsor. Meski demikian, masa operasional kedua posko tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan pencarian dan kondisi di lapangan.

“Untuk kesehatan kami akan buka dulu satu minggu. Kalau tiga atau empat hari sudah clear dan tidak ada pencarian lagi, otomatis kami juga tutup,” jelasnya. (BC9)